Beranda > Konsultasi Agama > Apakah batasan seseorang telah dikatakan masbuq?

Apakah batasan seseorang telah dikatakan masbuq?

Apakah batasan seseorang telah dikatakan masbuq dalam shalat gerhana?

Jawaban:

Berikut ini petikan penjelasan terkait masalah ini, yang diambilkan dari buku Bughyatul Mutathowwi’ fi Shalaati at Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazamul

إذا فاته ركوع من الركوعين في الركعة:

صلاة الكسوف ركعتان، كل ركعة بركوعين وسجدتين ؛ فمجمل الصلاة أربع ركوعات وأربع سجدات في ركعتين.

ومن أدرك الركوع الثاني في الركعة الأولى؛ فاته فيها قيام وقراءة وركوع، وبناء عليه لا يكون قد جاء بركعة من ركعتي صلاة الكسوف؛ فلا يعتد بهذه الركعة، وعليه بعد سلام الإمام أن يأتي بركعة بركوعين على ما ثبت في الأحاديث الصحيحة. والله أعلم.

والدليل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا؛ فهو رد”. متفق عليه. وليس من أمر الرسول صلى الله عليه وسلم صلاة ركعة من صلاة الكسوف بركوع واحد. والله أعلم.

Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku’ Dalam Satu Raka’at.

Shalat kusuf ini terdiri dari dua raka’at, masing-masing raka’at terdiri dari dua ruku‘ dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, solat kusuf ini terdiri dari empat ruku’ dan empat sujud di dalam dua raka’at.

Jika seorang makmum mendapati ruku’ kedua dari raka’at pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan al fatihah dan surat), dan satu ruku’. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua raka’at shalat kusuf, sehingga raka’at tersebut tidak dianggap telah dikerjakan. Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku’, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits-hadits shahih. Wallahu a’lam.

Yang menjadi dalil baginya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

yang artinya: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka dia akan ditolak.” [Muttaffaq ‘alaihi][1]

Dan bukan dari perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat satu raka’at saja dari shalat kusuf dengan satu ruku’. Wallahu ‘alam


[1] Hadits shahih. Diriwayatlkan oleh al-Bukhari sebagai kata pembuka dengan lafaz ini di dalam Kitaabul Buyuu’, bab An-Najasy, Fathul Baari (IV/355). Dan diriwayatkan secara bersambungan di dalam Kitabush Shulh, bab Idzaa Ishtalahu ‘alaa Shulhi Juurin fa Shulhu Marduud, dengan lafaz: “Barangsiapa membuat suatu hal yang baru dalam perintah kami ini, yang bukan darinya, maka dia tertolak”. Dan diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Uqdhiyah, bab Naqdhul Ahkaam Al-Baathilah wa Raddu Muhdatsaatil Umuur, (hadits no. 1718). Dan lihat juga kitab, Jaami’ul Ushuul (I/289).

——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: