Beranda > Konsultasi Agama > Apakah shalat gerhana dilaksanakan dengan suara yang keras?

Apakah shalat gerhana dilaksanakan dengan suara yang keras?

Pertanyaan:

Apakah shalat gerhana dilaksanakan dengan suara yang keras (jahar) atau pelan (sir)?

Jawaban:

Berikut ini petikan penjelasan terkait masalah ini, yang diambilkan dari buku Bughyatul Mutathowwi’ fi Shalaati at Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazamul

والقراءة في صلاة الكسوف جهرية ؛ كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم.

عن عائشة رضي الله عنها: ” جهر النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف بقراءته، فإذا فرغ من قراءته؛ كبر فركع، و إذا رفع من الركعة ؛ قال: سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد. ثم يعاود القراءة في صلاة الكسوف أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات”. أخرجه الشيخان.

قال الترمذي رحمه الله: ” واختلف أهل العلم في القراءة في صلاة الكسوف: فرأى بعض أهل العلم أن يسر بالقراءة فيها بالنهار، ورأى بعضهم أن يجهر بالقراءة فيها ؛ كنحو صلاة العيدين والجمعة، وبه يقول مالك و أحمد وإسحاق؛ يرون الجهر فيها، وقال الشافعي: لا يجهر فيها”. اهـ. قلت: ما وافق الحديث هو المعتمد، وبالله التوفيق.

Bacaan dalam shalat kusuf dibaca dengan jahr (suara keras dan kuat), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya dalam shalat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliaupun bertakbir dan ruku’. Dan jika dia bangkit ruku’, maka baginda berucap: “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana wa lakal hamdu”. Kemudian baginda kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat ruku‘ dalam dua rakaat dan empat sujud.” [Dikeluarkan oleh asy-Syaikhani][1]

Imam at-Tirmidizi rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca perlahan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam shalat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan shalat ‘Idul Fithi dan ‘Idul Adha serta shalat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Imam Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada shalat tersebut. Sedangkan Imam Asy-Syafi’i mengatakan: Bacaan tidak dibaca Jahr dalam shalat sunat.[2]
Dengan ini saya katakan bahawa apa yang sesuai dengan hadits, itulah yang dijadikan sandaran.[3] Wabillahi Taufiq.


[1] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di beberapa tempat, di antaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Al-Jahr bil Qiraa’ah fil Kusuuf, (hadits no. 1065) dan lafaz di atas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf, (hadits no. 901). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/156). Takhrij hadits ini telah diberikan sebelumnya, tanpa memberi isyarat kepada riwayat ini.

[2] Sunan at-Tirmidzi (II/448 –tahqiq Ahmad Syakir).

[3] Lihat pendapat Imam asy-Syafi’i dan dalilnya di dalam kitab Al-Umm (I/243). Juga pembahasan dalil-dalilnya serta bantahan terhadapnya di dalam kitab, Fathul Baari (II/550).

——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: