<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sirah Nabawiyah</title>
	<atom:link href="http://sirahnabawiyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com</link>
	<description>Rasulullah shallallahu &#039;alaihi wasallam sebagai uswah hasanah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Jan 2011 14:48:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sirahnabawiyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sirah Nabawiyah</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sirahnabawiyah.wordpress.com/osd.xml" title="Sirah Nabawiyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tempat-tampat Bersejarah di Mekah Madinah</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/tempat-tampat-bersejarah-di-mekah-madinah/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/tempat-tampat-bersejarah-di-mekah-madinah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 14:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Tempat Bersejarah Ka&#8217;bah  Ka&#8217;bah merupakan kiblat shalat umat Islam. Ka&#8217;bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama diatas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah SWT.Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam Al Qur&#8217;an Surat Ali Imran ayat 90, yang artinya : &#8220;Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah), yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=276&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tempat Bersejarah</p>
<p><strong>Ka&#8217;bah  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/KABAH.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Ka&#8217;bah merupakan kiblat shalat umat Islam. Ka&#8217;bah yang berbentuk kubus ini merupakan bangunan utama diatas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah SWT.Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam Al Qur&#8217;an Surat Ali Imran ayat 90, yang artinya :</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta&#8221;.</p>
<p>Ka&#8217;bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul &#8216;Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Makkah. Baitullah ini dibangun diatas dasar fondasi yang kokoh.</p>
<p>Dinding-dinding sisi Ka&#8217;bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. terkecuali satu dinding yang diberi nama &#8220;Rukun Hajar Aswad&#8221;.</p>
<p>Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :</p>
<ul>
<li>
<div>Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak)</div>
</li>
<li>
<div>Sebelah Barat Rukum Syam (Suriah)</div>
</li>
<li>
<div>Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman)</div>
</li>
<li>
<div>Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).</div>
</li>
</ul>
<p>Keempat sisi Ka&#8217;bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman nabi Ismail, Ka&#8217;bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas.</p>
<p>Dalam satu tahun Ka&#8217;bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzulhijah dan awal bulan Sya&#8217;ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.</p>
<p><strong>Masjidil Haram  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/masjidil%20haral.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Sebagai pusat kota Makkah adalah Masjid Al-Haram, dimana didalamnya terdapat Ka&#8217;bah sebagai arah kiblat umat Islam pada waktu shalat. Masjid ini mula-mula dibangun secara permanen oleh Sayyidina Umar bin Al Khattab pada tahun 638 M.</p>
<p>Dari masa kemasa Masjidil Haram selalu mengalami pembaharuan dan perluasan, diprakarsai oleh raja-raja Islam yang memberi perhatian terhadap Masjidil Haram. Pembangunan besar-besaran dalam sejarah diprakarsai oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz yang bergelar :&#8221;Pelayan Dua Tanah Haram Makkah dan Madinah&#8221;.</p>
<p>Dikatakan Tanah Haram karena Tanah ini diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim). Saat ini luas Masjid Al Haram 328.000 meter persegi dan dapat menampung 730.000 jama’ah dalam satu waktu shalat berjama’ah.</p>
<p>Masjid ini melingkari Ka&#8217;bah, maka pintunya banyak. Ada 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang biasanya buka 24 jam sehari.</p>
<p>Keistimewaan Masjidil Haram banyak sekali, antara lain : Shalat di masjid ini lebih utama daripada shalat seratus ribu kali di masjid lain. Begitupun berdzikir, berdoa, bersedekah dan beramal baik lainnya.</p>
<p><strong>Hajar Aswad  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/hajar%20aswad.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam yang berada di sudut Tenggara Ka&#8217;bah, yaitu sudut dimana tempat Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan batu yang diturunkan Allah SWT. dari Surga melalui malaikat Jibril.</p>
<p>Hajar Aswad berupa kepingan batu yang terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan direkat dengan lingkaran perak.</p>
<p>Dalam salah satu riwayat Bukhari-Muslim, diterangkan bahwa Sayyidina Umar, sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, “Demi Allah, aku tahu bahwa kau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa.Kalau aku tidak melihat Rasulullah SAW. mencium-mu, tidak akan aku menciummu”.</p>
<p>Jadi mencium Hajar Aswad bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tapi merupakan anjuran dan hukumnya sunnah. Maka kalau keadaan tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan, sebaiknya urungkan saja niat untuk mencium atau mengusap batu ini.</p>
<p><strong>Hijr Ismail  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/Hijir%20Ismail.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Hijr Ismail, berdampingan dengan Ka&#8217;bah dan terletak di sebelah utara Ka&#8217;bah, yang dibatasi oleh tembok berbentuk setengah lingkaran setinggi 1,5 meter. Hijr Ismail itu pada mulanya hanya berupa pagar batu yang sederhana saja. Kemudian para Khalifah, Sultan dan Raja-raja yang berkuasa mengganti pagar batu itu dengan batu marmer.</p>
<p>Hijr Ismail ini dahulu merupakan tempat tinggal Nabi Ismail, disitulah Nabi Ismail tinggal semasa hidupnya dan kemudian menjadi kuburan beliau dan juga ibunya.</p>
<p>Berdasarkan kepada sabda Rasulullah Sallallahu &#8216;Alaihi Wasallam, sebagian dari Hijr Ismail itu adalah termasuk dalam Ka&#8217;bah. Ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari &#8216;Aisyah r.a. yang berbunyi : &#8216;Dari &#8216;Aisyah r.a. katanya; &#8220;Aku sangat ingin memasuki Ka&#8217;bah untuk melakukan shalat didalamnya. Rasulullah S.A.W. membawa Siti &#8216;Aisyah ke dalam Hijir Ismail sambil berkata &#8221; Shalatlah kamu disini jika kamu ingin shalat di dalam Ka&#8217;bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka&#8217;bah.</p>
<p>Shalat di Hijr Ismail adalah sunnah, dalam arti tidak wajib dan tidak ada kaitan dengan rangkaian kegiatan ibadah Haji atau ibadah Umroh.</p>
<p><strong>Maqam Ibrahim  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/maqam%20ibrahim.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebagian orang. Maqam Ibrahim adalah batu pijakan pada saat Nabi Ibrahim meninggikan pondasi Ka&#8217;bah. Letak Maqam Ibrahim ini tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari Ka&#8217;bah dan terletak di sebelah timur Ka&#8217;bah.</p>
<p>Saat ini Maqam Ibrahim seperti terlihat pada foto di atas. Di dalam bangunan kecil ini terdapat batu tempat pijakan Nabi Ibrahim seperti dijelaskan di atas. Pada saat pembangunan Ka&#8217;bah batu ini berfungsi sebagai pijakan yang dapat naik dan turun sesuai keperluan nabi Ibrahim saat membangun Ka&#8217;bah. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim masih nampak dan jelas dilihat.</p>
<p>Atas perintah Khalifah Al Mahdi Al Abbasi, di sekeliling batu Maqam Ibrahim itu telah diikat dengan perak dan dibuat kandang besi berbentuk sangkar burung.</p>
<p><strong>Multazam  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/multazam.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Multazam merupakan dinding Ka&#8217;bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka&#8217;bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan oleh jama’ah Haji dan Umroh untuk berdoa/bermunajat kepada Allah SWT. setelah selesai melakukan t<strong>awaf</strong><strong>.</strong></p>
<p>Saat bermunajat di depan Multazam ini, Jarang orang tidak meneteskan air mata disini, terharu karena kebesaran Illahi. Multazam ini insya Allah merupakan tempat yang mustajab dalam berdoa, insya Allah doa dikabulkan oleh Allah SWT.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka&#8217;bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa ditempat ini tanpa terkabul permintaannya.&#8221;</p>
<p><strong>Mata Air Zam-Zam  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/mata%20air%20zam%20zam.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Air Zamzam berasal dari mata air Zamzam yang terletak dibawah tanah, sekitar 20 meter disebelah Tenggara Ka&#8217;bah. Mata air atau Sumur ini mengeluarkan Air Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu minum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Saat minum air Zamzam kita menghadap Ka&#8217;bah.</p>
<p>Sumur Zamzam mempunyai riwayat yang tersendiri. Sejarahnya tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum, maka Siti Hajar pergi ke Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali. Namun tidak berhasil menemukan air setetespun karena tempat ini hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air dan belum didiami manusia selain Siti Hajar dan Ismail.</p>
<p><strong>Penjelasan tentang sejarah ini adalah sbb :</strong></p>
<p>Saat Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail tiba di Makkah, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang kering. Tidak berapa lama kemudian Nabi Ibrahim AS. meninggalkan mereka.</p>
<p>Siti Hajar yang memperhatikan sikap suaminya yang mengherankan itu lalu bertanya ; &#8220;Hendak kemanakah engkau, Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini?&#8221;.</p>
<p>Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim AS. tidak menjawab sepatah kata pun. Siti Hajar bertanya lagi ; &#8220;Apakah ini memang perintah dari Allah? &#8220;Barulah Nabi Ibrahim menjawab, &#8220;ya&#8221;. Mendengar jawaban suaminya yang singkat itu, Siti Hajar gembira dan hatinya tenteram. Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun ditempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.</p>
<p>Selang beberapa hari, air yang dari Nabi Ibrahim As. habis. Siti Hajar berusaha mencari air di sekeliling sampai mendaki Bukit Safa dan Marwah berulang kali sehingga kali ketujuh (terakhir) ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju kearah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air yang memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zamzam.</p>
<p>Air Zamzam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT., yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi, dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah SAW. bersabda : &#8220;sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit&#8221;.</p>
<p><strong>Safa dan Marwah  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/safa%20marwah.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Safa dan Marwah merupakan dua bukit yang terletak dekat dengan Ka&#8217;bah. Sejarah Safa-Marwah tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim As, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail As. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum di lembah pasir dan bukit yang tandus, Siti Hajar pergi mencari air pulang pergi dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali.</p>
<p>Saat kali ketujuh (terakhir). Ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju kearah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zamzam.</p>
<p><strong>Masjid Nabawi  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/masjid%20nabawi.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Disebut Masjid Nabawi karena Nabi Muhammad SAW. selalu menyebutnya dengan kalimat, &#8220;Masjidku&#8221;, pada setiap kali beliau menerangkan tentang sebuah masjid yang sekarang berada di pusat kota Madinah. Rasulullah bersabda, &#8220;Shalat di masjidku ini lebih utama daripada shalat seribu kali di masjid lain, kecuali Masjidil Haram&#8221;.</p>
<p>Dalam satu riwayat lain, Rasulullah bersabda, &#8220;Barang siapa shalat di masjidku 40 waktu tanpa terputus, maka ia pasti selamat dari neraka dan segala siksa dan selamat dari sifat munafik&#8221;.</p>
<p>Masjid ini didirikan oleh Rasul SAW. dan sahabat-sahabat pada tahun pertama hijrah (622 M) seluas 1050 meter persegi, yaitu persis di sebelah barat rumah Rasul, yang sekarang rumah itu menjadi makam Rasul SAW dan termasuk dalam bangunan masjid.</p>
<p>Berziarah ke masjid Nabawi ini adalah masyru&#8217; (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasulullah : &#8220;Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa”.</p>
<p><strong>Makam Rasulullah SAW  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/maqam%20rasulullah.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Makam (pusara) Rasullullah SAW terletak di sebelah Timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah Rasulullah SAW. bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah.</p>
<p>Sejak Rasulullah SAW. wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasullullah SAW. terbagi dua. Bagian arah kiblat (Selatan) utk makam Rasulullah SAW. dan bagian Utara utk tempat tinggal Aisyah.</p>
<p>Sejak tahun 678 H. (1279 M) diatasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome). Dan sampai sekarang Kubah Hijau tersebut tetap ada. Jadi tepat di bawah Kubah Hijau itulah jasad Rasullullah SAW. yang mulia dimakamkan. Disitu juga dimakamkan kedua sahabatnya, yaitu Abu Bakar (Khalifah Pertama) dan Umar (Khalifah Kedua) yang dimakamkan di bawah kubah, berdampingan dengan makam Rasulullah SAW.</p>
<p><strong>Arafah  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/arafah.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Arafah merupakan tempat yang sangat penting pada ibadah Haji, dimana di Arafah ini jama’ah haji harus melakukan Wukuf. Wukuf merupakan rukun Haji dan tanpa melaksanakan Wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah.</p>
<p>Keadaan di Arafah ini merupakan replika di Padang Mahsyar saat manusia dibangkitkan Allah SWT pada hari yang tak diragukan lagi. Saat itu semua manusia sama dihadapan Allah SWT., yang membedakan hanyalah kualitas imannya.</p>
<p>Wukuf secara harfiah berarti berdiam diri. Wukuf di Arafah adalah berada di Arafah pada waktu antara tergelincirnya matahari (tengah hari) tanggal 9 Dzulhijah sampai matahari terbenam dengan berpakaian ihram. Pada saat wukuf disarankan untuk memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan. Juga memperbanyak taubat memohon ampunan kepada Allah SWT., sebab saat wukuf adalah saat yang utama untuk berdoa, memohon ampun dan bertaubat.</p>
<p>Selain itu juga perbanyak ibadah lainnya seperti membaca Al Qur&#8217;an, takbir, tahmid, tahlil dan sebagainya. Selama wukuf jangan sampai melakukan sesuatu yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan kesucian ibadah saat Wukuf.</p>
<p>Adapun keutamaan Arafah adalah sebagaimana sabda Rasulullah SAW., &#8220;Doa yang paling baik adalah doa di hari Arafah&#8221;.</p>
<p>Dalam riwayat lain Rasulullah SAW. juga bersabda, &#8220;Tidak ada hari paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali hari Arafah&#8221;.</p>
<p>Arafah berjarak sekitar 25 km disebelah Tenggara Makkah dan merupakan padang pasir yang amat luas dan di bagian belakang dikelilingi bukit-bukit batu yang membentuk setengah lingkaran, saat ini sudah ditanami dengan pohon-pohon.</p>
<p>Pada musim haji di bawah pohon-pohon inilah dipasang tenda. bagi yang tidak kebagian tenda cukup berteduh di bawah pohon. Untuk mengurangi panas di setiap sekitar 20 meter dipasang pipa setinggi 6 meter yang diatasnya memancar air halus yang mirip gerimis, dengan tujuan menurunkan suhu disekitarnya.</p>
<p>Pancaran air ini sangat bermanfaat dan dapat mengurangi banyaknya jama’ah yang terkena high stroke (tiba-tiba lemas karena matahari yang panas)</p>
<p><strong>Muzdalifah </strong></p>
<p>Setelah matahari terbenam (mulai masuk tanggal 10 Dzulhijah), dari Arafah berangkat ke Muzdalifah. Shalat Maghrib dan Isya dikerjakan di Muzdalifah dengan cara jama&#8217; takhir qashar.</p>
<p>Muzdalifah terletak antara Arafah dan Mina. Di Muzdalifah ini jama’ah haji bermalam (mabit) dan mengambil 70 atau 49 butir batu kecil untuk persiapan lempar jumroh di Mina. Shalat Subuh dilaksanakan berjama’ah di Muzdalifah.</p>
<p>Setelah shalat subuh, meninggalkan Muzdalifah menuju Mina untuk melempar jumroh. Bagi orang tua dan yang lemah/sakit boleh meninggalkan Muzdalifah pada malam hari setelah lewat tengah malam baru menuju Mina.</p>
<p><strong>Mina  <img src="http://www.darunur.com/images/images_manager/mina.jpg" alt="" /></strong></p>
<p>Mina merupakan lokasi di Tanah Haram Makkah (Tanah yang diharamkan bagi orang selain Muslim). Mina didatangi oleh jama’ah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jama’ah haji tinggal disini sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah shalat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jama’ah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW. saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.</p>
<p>Jama’ah haji datang lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan Wukuf di Arafah. Jama’ah haji ke Mina lagi karena akan melempar jumroh. Di Mina ini, pada malam hari tidur dan pada siang hari melempar jumroh. Yaitu tanggal 10, 11, 12 Dzulhijah bagi jama’ah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau tanggal 10, 11, 12, 13 dzulhijah bagi jama’ah yang melaksanakan Nafar Tsani. Untuk tanggal di atas, amalan bermalam dan melempar jumroh merupakan amalan wajib haji (yang jika tidak dilakukan, harus membayar dam atau denda).</p>
<p>Pada hari-hari biasa, Mina kosong tidak berpenduduk, walaupun terlihat bangunan permanen. Namun pada tanggal 10 Dzulhijah dan beberapa hari sebelumnya dipadati para jama’ah haji.</p>
<p>Tanah di Mina tidak boleh dimiliki oleh perorangan, yang boleh adalah menempati untuk keperluan ibadah saja. Sesuai dengan riwayat isteri nabi, Aisyah ra., &#8220;Ya Rasullullah SAW., perlukah kami buatkan di Mina untuk anda berteduh?&#8221;, Rasulullah SAW. menjawab, &#8220;Jangan, sesungguhnya Mina adalah tempat duduk orang yang lebih dahulu datang&#8221;.</p>
<p>Tempat atau lokasi melempar jumroh terdapat di Mina, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula.</p>
<p>Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Rasulullah SAW. melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=276&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/tempat-tampat-bersejarah-di-mekah-madinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/KABAH.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/masjidil%20haral.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/hajar%20aswad.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/Hijir%20Ismail.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/maqam%20ibrahim.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/multazam.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/mata%20air%20zam%20zam.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/safa%20marwah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/masjid%20nabawi.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/maqam%20rasulullah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/arafah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.darunur.com/images/images_manager/mina.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi-2/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 17:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasulullah sebagai teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika Umar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=274&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya.</div>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><span id="more-274"></span></p>
<p>Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan  menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya.<br />
Setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Klaim cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Sejarah Peringatan Maulid Nabi</strong></p>
<p>Dalam sejarah pun, motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan maulid nabi (pengikut mazhab Bathiniyyah), bukan didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis.</p>
<p>Pelopor pertama peringatan maulid nabi adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah pada pertengahan  abad ke empat Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H.</p>
<p>Perayaan maulid diadakan untuk menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.<br />
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun.</p>
<p>Beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).</p>
<p>Kenyataan sejarah peringatan maulid yang tidak ditemukan pada masa Nabi  Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan masa tiga generasi yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai generasi terbaik umat ini, menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid’ah haram.</p>
<p>Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, inovasi yang baik, selama tidak dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar al Atsqolani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.</p>
<p>Keabsahan peringatan maulid nabi bagi mereka disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumen-tasinya melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam al Quran dan juga al hadits, dan diperkuat dengan kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang disyariatkannya suatu ibadah.</p>
<p><strong>Hujjah Pendukung Peringatan Maulid</strong></p>
<p>Para pendukung maulid berusaha mencari dalil untuk melegitimasi bolehnya peringatan maulid tersebut, antara lain:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah Azza Wajalla atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut.</p>
<p>Peringatan maulid nabi, menurut Ibn Hajar dan as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam ke muka bumi.</p>
<p>Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.</p>
<p>Puasa asyura termasuk sunnah yang telah dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sebaliknya, beliau telah mewanti-wanti ummatnya dari kreasi-kreasi bid’ah, seperti dalam sabdanya, “Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah sesat.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).</p>
<p>Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhaanahu Wata’ala, dan nikmat terbesar yang tercurah pada ummat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, al Qur’an menyebut pengutusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai nikmat, “Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri.” (QS. Ali Imran: 164).</p>
<p>Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura’ berbeda dengan status umatnya. Beliau adalah musyarri’ (pembuat syariat), adapun umatnya hanya muttabi’ (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau.</p>
<p>Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan sangat antusias melakukan berbagai kebaikan.</p>
<p>Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada sunnahnya?</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Nabi memeringati hari kelahirannya dengan berpuasa</p>
<p>Sebagian beralasan dengan puasa seninnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang merupakan hari kelahirannya. Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam ditanya mengenai puasa Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.</p>
<p>Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi’ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap pekan, bukan sekali setahun. Selain itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis. Alasan beliau, “Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah sedang aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).</p>
<p>Sehingga berdalih dengan puasa senin tanpa hari kamis termasuk takalluf dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat diterima, mestinya pering-atannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan berfoya-foya dan makan-makan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Peringatan maulid nabi dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Anggapan ini lahir dari klasifikasi sebahagian ulama terhadap bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (jelek) atau dholalah (sesat).<br />
Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dapat diterima sebagai bid’ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan diyakini oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,  “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).</p>
<p>Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata,  “Ikutilah (petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat” (HR. ath-Thabrani dan al Haitsami).</p>
<p>Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Al Ibanah al Kubro libni Baththoh, 1/219).</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Peringatan Maulid merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.</p>
<p>Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid’ah dipoles menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa Alaihissalam melalui natalan. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).</p>
<p>Mengenal sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.</p>
<p>Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.<br />
Wallahu A’laa wa A’lamu bis-shawab</p>
<p><em>(Diringkas dari risalah Antara Cinta Rasul dan Maulid Nabi. Ustadz Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.)</em></p>
<p><em>Sumber: </em><a href="http://www.wahdah.or.id/">http://www.wahdah.or.id/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=274&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2011/01/15/antara-cinta-rasul-dan-maulid-nabi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERBEDAAN DERAJAT SAHABAT (1)</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/06/perbedaan-derajat-sahabat-1/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/06/perbedaan-derajat-sahabat-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 22:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahli]]></category>
		<category><![CDATA[anshar]]></category>
		<category><![CDATA[badar]]></category>
		<category><![CDATA[derajat]]></category>
		<category><![CDATA[muhajirin]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Izzudin Karimi Para sahabat memiliki derajat dan kedudukan mulia di sisi Allah dan RasulNya, kedudukan mulia ini karena mereka adalah para sahabat Rasulullah saw, namun derajat dan kedudukan mereka di antara mereka tidak sama, artinya sebagian sahabat mempunyai derajat yang lebih tinggi dari sebagian yang lain. Derajat tertinggi umat ini diraih oleh khulafa’ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=265&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>oleh : Izzudin Karimi</p>
<p>Para sahabat memiliki derajat dan kedudukan mulia di sisi Allah dan   RasulNya, kedudukan mulia ini karena mereka adalah para sahabat   Rasulullah saw, namun derajat dan kedudukan mereka di antara mereka   tidak sama, artinya sebagian sahabat mempunyai derajat yang lebih<span id="more-265"></span> tinggi   dari sebagian yang lain.</p>
<p>Derajat tertinggi umat ini diraih oleh khulafa’ rasyidin yang empat,   yang tertinggi dari mereka adalah Abu Bakar kemudian Umar kemudian   Usman kemudian Ali, sesuai dengan urutan khilafah mereka.</p>
<p>Setelah mereka adalah para sahabat <em>as-sabiqun al-awwalun,</em> para sahabat yang berinfak dan berjihad sebelum Fathu Hudaibiyah   berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, “<em>Tidak sama di antara  kamu orang  yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum  penaklukan. Mereka  lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang  menafkahkan (hartanya)  dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan  kepada masing-masing mereka  (balasan) yang lebih baik. Dan Allah  mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em>”  (QS. Al-Hadid: 10).<br />
Ayat di atasa menyatakan bahwa orang-orang yang berinfak dan  berperang  sebelum perdamaian Hudaibiyah lebih afdhal daripada  orang-orang yang  berinfak dan berperang setelahnya.</p>
<p>Perdamaian Hudaibiyah sendiri terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun   enam hijriyah. Orang-orang yang masuk Islam berinfak dan berperang   sebelum itu adalah lebih baik daripada orang-orang yang berinfak dan   berperang sesudahnya. Hal ini bisa kita ketahui melalui sejarah   keislaman mereka, kita merujuk kepada <em>al-Ishabah fi Tamyizis  Shahabah</em> milik Ibnu Hajar atau <em>al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashab</em> milik Ibnu  Abdul Bar atau buku-buku lainnya tentang sahabat, dari sana  diketahui  sahabat ini masuk Islam sebelum atau sesudahnya.</p>
<p>Fathu (penaklukan) dalam ayat di atas adalah perdamaian Hudaibiyah.   Ini adalah salah satu pendapat dari dua pendapat tentang ayat ini dan   inilah yang benar dalilnya adalah kisah antara Abdur Rahman bin Auf   dengan Khalid dan ucapan al-Barra bin Azib, “Kamu menganggap Fath adalah   Fathu Makkah, memang Fathu Makkah adalah sebuah Fath sementara kami   menganggap bahwa Fath adalah Baiat Ridhwan pada hari Hudaibiyah.”   Diriwayatkan oleh al-Bukhari.</p>
<p>Ada yang berkata bahwa yang dimaksud dengan Fath adalah Fathu Makkah   dan ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir.</p>
<p><strong>Antara Muhajirin dan Anshar</strong></p>
<p>Muhajirin adalah orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah pada   zaman Nabi sebelum Fathu Makkah. Sedangkan Anshar adalah penduduk   Madinah di mana Nabi berhijrah kepada mereka.</p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jamaah mendahulukan Muhajirin di atas Anshar karena   orang-orang Muhajirin menggabungkan antara hijrah dan <em>nusrah</em> (mendukung) sementara orang-orang Anshar hanya <em>nusrah</em> saja.</p>
<p>Muhajirin meninggalkan keluarga dan harta mereka serta tanah   kelahiran mereka, mereka pindah ke bumi yang asing, semua itu adalah   hijrah kepada Allah dan RasulNya demi menolong Allah dan RasulNya.    Sedangkan Anshar, Nabi saw mendatangi mereka di negeri mereka, mereka   menolong Nabi, tanpa ragu mereka melindungi Nabi seperti mereka   melindungi istri dan anak-anak mereka sendiri.</p>
<p>Dalil didahulukannya Muhajirin adalah firman Allah yang artinya, “<em>Orang-orang   yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan   Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,   Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.</em>”  (QS.  At-Taubah: 100). Ayat ini menyebut Muhajirin sebelum Anshar.</p>
<p>Firman Allah yang artinya, “<em>Sesungguhnya Allah telah menerima  taubat nabi,  orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar.</em>” (QS.  At-Taubah: 117).  Ayat ini mendahulukan Muhajirin kemudian Anshar.</p>
<p>Firman Allah tentang harta fai’, “Bagi orang fakir yang berhijrah   yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka.”  (TQS.  Al-Hasyr: 8). Kemudian, “Dan orang-orang yang telah menempati kota   Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka   (Muhajirin).” (TQS. Al-Hasyr: 9).</p>
<p><strong>Ahli Badar</strong></p>
<p>Ahli Badar adalah para sahabat yang ikut serta dalam perang Badar,   perang besar pertama Rasulullah saw melawan orang-orang Musyrikin   Makkah, para sahabat yang ikut di dalamnya memiliki kedudukan khusus di   sisi Allah setelah kemenangan tersebut, Allah melongok mereka dan   berfirman, “<em>Lakukan apa yang kalian mau lakukan karena Aku telah   mengampuni kalian.</em>” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.</p>
<p>Dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni untuk mereka karena   kebaikan besar ini yang Allah berikan melalui tangan mereka.</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa dosa apapun yang terjadi dari mereka   diampuni. Ia mengandung berita gembira bahwa mereka tidak mati di atas   kekufuran karena mereka diampuni, ini menuntut satu dari dua perkara:</p>
<p>Bahwa mereka tidak mungkin kafir setelah itu atau kalaupun salah   satu dari me ditakdirkan kafir maka dia akan diberi taufik untuk taubat   dan kembali kepada Islam. Apapun, ini adalah berita gembira besar bagi   mereka dan kita tidak mengetahui seorang pun yang kafir setelah itu.</p>
<p>Dari <em>Syarah Aqidah Wasithiyah</em>, Syaikh Ibnu Utsaimin.</p>
<p>http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihataqidah&#038;parent_id=434&#038;parent_section=aq127&#038;idjudul=432</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=265&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/06/perbedaan-derajat-sahabat-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SAHABAT RASULULLAH SAW. DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH*</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/05/sahabat-rasulullah-saw-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/05/sahabat-rasulullah-saw-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 22:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi&#039;ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rahmat A. Rahman Ketua Lembaga Kajian &#38; Konsultasi Syariah Wahdah Islamiyah Berbicara tentang sahabat, seakan berenang di lautan kemuliaan yang tak bertepi. Begitu banyak kemuliaan yang tertoreh dalam kehidupan mereka, baik ketika berdampingan dengan Rasulullah saw. maupun setelah beliau wafat. Keberadaan dan peran mereka di tengah-tengah umat merupakan bukti nyata kegemilangan dakwah Rasulullah s.a.w., [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=262&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:  Rahmat A. Rahman</strong></p>
<p><strong>Ketua Lembaga Kajian &amp;  Konsultasi Syariah Wahdah  Islamiyah</strong></p>
<p>Berbicara tentang sahabat, seakan berenang di lautan kemuliaan yang  tak bertepi. Begitu banyak kemuliaan yang tertoreh dalam<span id="more-262"></span> kehidupan  mereka, baik ketika berdampingan dengan Rasulullah saw. maupun setelah  beliau wafat.<br />
Keberadaan dan peran mereka di tengah-tengah umat merupakan bukti nyata   kegemilangan dakwah Rasulullah s.a.w., yang diutus sebagai Rasul untuk   membina umat manusia ke jalan keselamatan. Mereka-lah para pahlawan  yang  selalu tegar di garda terdepan membela dan menyebarkan agama ini.   Melalui tetes keringat dan darah mereka syariat ini abadi. Dan sejarah   membuktikan, bahwa ketulusan dan keikhlasan hati mereka mengemban  amanah  Rasulullah saw itu, menjadikan mereka generasi teladan sepanjang   sejarah umat manusia.</p>
<p>Merekalah generasi yang tumbuh langsung di bawah naungan tarbiyah   Rasulullah saw. Menyaksikan dan mendengar segala yang berkaitan dengan   agama ini langsung dari beliau saw. Karenanya, mereka ibarat menara   benderang dalam hal pemahaman akan kebenaran, kelurusan aqidah,   kesungguhan ibadah, kemuliaan akhlak dan kesahajaan hidup. Dan semua ini   tergores apik dalam tinta emas sajarah peradaban umat. Hingga tidak   heran kalau kemudian mereka ditahbis sebagai tonggak penegak   kelangsungan ajaran Islam.</p>
<p>Melihat hal tersebut, wajar jika mereka menjadi target makar   musuh-musuh agama. Sebab dengan merusak kredibilitas dan persepsi umat   tentang mereka, akan lebih mudah mengacaukan manhaj yang benar dalam   memahami dan merealisasikan syariat Islam. Berbagai pencemaran nama baik   dilakukan firqah-firqah sesat sejak sepeninggal Rasulullah saw hingga   saat sekarang ini. Contoh yang paling nyata dalam sejarah, adalah   munculnya fitnah Khawarij dan Syiah, yang begitu getol menyudutkan para   sahabat. Akan tetapi, beruntunglah para sahabat ra yang mengambil   langsung hidayah dari tangan Nabi saw, hingga dengannya mereka sanggup   keluar dari fitnah tersebut, bahkan menjelaskan kepada umat sikap dan   posisi semestinya menghadapi semua itu.</p>
<p>Terakhir, kami ingatkan, bahwa fitnah dan upaya memecah belah umat   Islam melalui jalan merusak ‘adalah para sahabat, tidak pernah berhenti.   Dan Rasulullah saw. memberi jalan kepada kita: “Tetapilah sunnahku dan   sunnah al-Khulafa ar-Rasyidun al-Mahdiyun setelahku …”. Semoga Allah   swt. membimbing kita agar terhindar dari fitnah yang merusak agama.</p>
<p><strong>A.    DEFINISI SAHABAT RASULULLAH SAW.</strong><br />
Secara bahasa: Shahabi merupakan pecahan dari kata as-Shuhbah, yang   berarti Mu’asyarah (pergaulan atau persahabatan). Disebutkan dalam kitab   “Lisanul Arab”: kata Shaahabahu bermakna ‘asyarahu, (yakni,  menemaninya  dan bersamanya).</p>
<p>Dan di dalam kamus al-Mishbah al-Munir karya al-Fayumi, disebutkan:   Kata as-Shuhbah diarahkan pada orang yang sempat melihat dan duduk   (bersama sahabatnya).</p>
<p>Sedangkan secara istilah, shahabi adalah: “Orang yang pernah   berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman   dan wafat dalam keadaan Islam”. Maka termasuk dalam kategori ini semua   mukmin yang pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. baik dalam waktu  lama  maupun singkat, meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak,  turut  berperang beserta beliau maupun tidak, dan orang yang tidak  melihat  beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta…”. (Ibnu Hajar dalam   kitabnya: al-Ishabah I/6-8)</p>
<p>Cara mengetahui status seseorang sebagai sahabat adalah sebagaimana   yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Baits   al-Hatsits hal. 185, “Status sahabat dapat diketahui melalui (berita)   mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat   mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga   dengan meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, baik   secara sama’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama berada satu zaman   (dengan Nabi).”</p>
<p><strong>B.    KEDUDUKAN SAHABAT RASULULLAH SAW. DALAM AL-QUR’AN DAN   SUNNAH</strong><br />
Untuk menjelaskan kedudukan shahabat Rasulullah saw. dalam ajaran Islam   maka dapat dilihat pada ayat-ayat dan hadits-hadits berikut ini:<br />
I.    Dalil-dalil dari al-Qur’an:<br />
Ayat Pertama:</p>
<p>َقَدْ رَضِيَ  اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ  الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ  عَلَيْهِمْ  وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا</p>
<p>“Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang  mukmin ketika  mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah  mengetahui  apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan  atas mereka  dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang  dekat  (waktunya)”. (Qs: al-Fath : 18).</p>
<p>Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma berkata: “Jumlah kami saat itu   sebanyak seribu empat ratus orang”. (Riwayat al-Bukhari, no. 4154)</p>
<p>Ayat ini merupakan dalil yang jelas akan persaksian Allah Ta’ala dan   tazkiyah atas para sahabat. Dan ini merupakan bentuk persaksian  terhadap  apa yang ada dalam hati mereka, sebab Allah-lah yang Maha  Mengetahui  apa yang terkandung di dalamnya. Dari sini lahirlah  keridhaan-Nya atas  mereka. Dan siapa yang Allah Ta’ala telah ridha  padanya, mustahil mati  dalam keadaan kufur. Sebab ukuran utamanya  adalah kematian dalam keadaan  Islam. Disamping keridaan itu tidak  mungkin terwujud melainkan jika  kematian mereka berada di atas agama  Islam.</p>
<p>Dan hal ini lebih ditegaskan lagi oleh hadits Rasulullah shallallahu   alaihi wasallam:</p>
<p dir="rtl">لا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ  الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا</p>
<p>“Tidak akan masuk neraka dengan izin Allah seorang-pun yang ikut   berbai’at di bawah (pohon)”. HR. Muslim, no. 2496.</p>
<p>Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Fashl fil Milal wa   al-Ahwa’ wa an-Nihal IV/116: Siapa yang Allah Ta’ala kabarkan kepada   kita, bahwa Ia mengetahui apa yang ada dalam hati-hati mereka, ridha   terhadapnya, serta menurunkan sakinah (ketenangan) atasnya, maka tidak   halal bagi siapa-pun untuk tawaqquf (tidak mengakui keutamaan tersebut)   atau ragu tentang mereka.</p>
<p>Ayat Kedua:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p dir="rtl">مُحَمَّدٌ رَسُولُ  اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ  عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا  سُجَّدًا  يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ   مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ  فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ   فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ  الْكُفَّارَ وَعَدَ  اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ  مِنْهُمْ مَغْفِرَةً  وَأَجْرًا عَظِيمًا<strong> </strong></p>
<p>“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan   dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang   sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah   dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas   sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat   mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya   Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan   tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati   penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang   kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada   orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara   mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Qs: al-Fath : 29).</p>
<p>Imam Malik rahimahullah berkata: Telah sampai padaku (berita) bahwa   kaum Nashrani jika menyaksikan para sahabat yang menaklukkan negeri   Syam, mereka berujar: “Demi Allah, mereka itu lebih baik ketimbang kaum   Hawariyyun sebagaimana yang kami ketahui tentang mereka. Perkataan ini   merupakan bukti kejujuran. Sebab umat ini begitu diagungkan dalam   kitab-kitab samawi. Dan yang paling mulia dan agung adalah para sahabat   Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dimana Allah Ta’ala telah   memuliakan penyebutan mereka dalam kitab-kitab samawi yang diturunkan,   serta dalam kabar-kabar yang diwariskan secara turun-temurun.(                 <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> IV/204, cet. Darul  Ma’rifat. Lihat  pula: <em>Al-Isti’ab, </em>Ibnu Abdil Barr, I/6 cet. Daar al-Kitab  al-Arabi.     )</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata dalam tafsirnya Zaadul Masir   VII/446: “Sifat ini diarahkan kepada seluruh sahabat, menurut jumhur   ulama”.</p>
<p>Ayat Ketiga:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ  الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ  دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ  اللَّهِ  وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ   الصَّادِقُونَ ، وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ  قَبْلِهِمْ  يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي  صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا  أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ  وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ  يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ  هُمُ الْمُفْلِحُونَ ، وَالَّذِينَ جَاءُوا  مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ  رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا  بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا  رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>“(juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung   halaman…. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan   Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan   Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan   janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap   orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha   Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs: al-Hasyr : 8 – 10).</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan sifat-sifat mereka yang   berhak mendapat harta faiy, dan mereka itu terbagi atas tiga golongan:   Fuqara’ al-Muhajirin (orang-orang fakir yang berhijrah), orang-orang   yang menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum   kedatangan kaum Muhajirin, serta orang-orang yang datang sesudah kaum   Muhajirin dan Anshar.</p>
<p>Olehnya, Imam Malik rahimahullah -sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu   Katsir dalam tafsirnya IV/339- menggunakan ayat ini sebagai dalil,   bahwa siapa yang mencela para sahabat maka tidak ada bagiannya dari   harta faiy itu. Sebab padanya tidak terdapat sifat yang Allah Ta’ala   puji bagi mereka -golongan ketiga-, yakni ucapan mereka: “Ya Rabb kami,   beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih   dulu dari kami”.<br />
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu berkata: Manusia itu terdiri dari   tiga tingkatan: Dua tingkatan telah berlalu, dan tinggal satu  tingkatan  lagi. Maka yang paling terbaik bagi kalian adalah menjadi  bagian dari  golongan yang masih tinggal tersebut, -lalu beliau membaca  ayat ini-.  Yakni, hendaklah engkau memohonkan ampun bagi mereka (Kaum  Muhajirin dan  Anshar). Riwayat al-Hakim</p>
<p>Ayat Keempat:<strong> </strong></p>
<p>وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ  وَالَّذِينَ  اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا  عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ  جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ  خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ  الْفَوْزُ الْعَظِيمُ<br />
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari   golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka   dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah   dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir   sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya.   Itulah kemenangan yang besar”. (Qs: at-Taubah : 100).<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya as-Sharim   al-Maslul hal. 572, berkata: Allah Ta’ala ridha atas orang-orang   terdahulu yang pertama masuk Islam, tanpa syarat ihsan. Dan Ia tidak   meridhai bagi mereka yang datang kemudian, melainkan jika mengikuti   mereka dengan baik (ihsan).</p>
<p>Ayat kelima:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ  وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ  الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ  بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى  وَاللَّهُ بِمَا  تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</p>
<p>“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan   berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya   daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah   itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih   baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs: al-Hadid :  10).<br />
Imam at-Thabari meriwayatkan dalam kitab tafsirnya dari Imam Mujahid dan   Qatadah yang berkata: Al-Husna dalam ayat ini bermakna: Surga.<br />
Ibnu Hazm rahimahullah berhujjah dengan ayat ini kala menyatakan: Bahwa   tidak diragukan lagi, seluruh sahabat termasuk ahli surga, seperti   firman Allah Ta’ala: “Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka   (balasan) yang lebih baik –yakni surga –”.(                <em>Al-Fashl  Fii  al-Milal Wa  al-Ahwa Wa  an-Nihal,</em> IV/116)</p>
<p>Ayat keenam:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آَمِنُوا بِاللَّهِ  وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ  وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ ، رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا  مَعَ  الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ ،  لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ  آَمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ  وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ  الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ  الْمُفْلِحُونَ ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ  تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا  الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada  orang  munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah  beserta  Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka  meminta  izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata:  “Biarkanlah  kami berada bersama orang-orang yang duduk”. Mereka rela  berada bersama  orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka  telah dikunci  mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman  dan berjihad).  Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia,  mereka berjihad  dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah  orang-orang yang  memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula)  orang-orang yang  beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka syurga  yang mengalir di  bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.  Itulah kemenangan yang  besar. (Qs. at-Taubah : 86-89)<br />
Sejarah membukukan, bahwa para sahabat seluruhnya menghadiri perang   Tabuk tersebut, kecuali orang-orang yang terhalangi udzur dari golongan   para wanita dan orang tua renta. Adapun tiga orang yang tertinggal   darinya, seperti disebutkan dalam surah at-Taubah, sungguh telah turun   ayat yang mengabulkan taubat mereka setelah itu.</p>
<p><strong>II.    Dalil-dalil dari as-Sunnah</strong><br />
Hadits Pertama:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى  الله عليه وسلم –  قَالَ « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ  يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ …</p>
<p>Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu   alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di   zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang   setelahnya”. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.</p>
<p>Hadits Kedua:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">عن انس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تفترق  هذه الأمة على ثلاث  وسبعين فرقة كلهم في النار إلا واحدة قالوا وما تلك  الفرقة قال ما انا عليه اليوم  وأصحابي</p>
<p>Dari Anas ibn Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Umatku akan   terpecah menjadi 73 golongan semua di neraka kecuali satu”. Mereka   bertanya: Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah saw. ? Beliau   menjawab: “Yang (mencontoh) kepadaku dan para sahabatku saat ini”. HR.   at-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shagir no. 724</p>
<p>Hadits Ketiga:<br />
Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar bin al-Khattab   radhiyallahu anhu:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدْ اطَّلَعَ  عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ : ” اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ  لَكُم “</p>
<p>“Apakah engkau mengetahui, bahwa Allah Ta’ala telah melihat (ke dalam   hati) orang-orang yang ikut dalam perang Badar, lalu Ia berfirman:   “Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni   kalian”.HR. al-Bukhari, no. 3983, dan Muslim, no. 2494<br />
Makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di atas, bahwasanya   amal-amal keburukan mereka (yang ikut dalam perang Badar) telah   diampuni, seakan ia tak pernah terjadi, sebagaimana dijelaskan oleh Imam   Ibnu hajar al-Atsqalani dalam kitab Ma’rifatul Khishal al-Mukaffirah   hal. 31<br />
Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya al-Fawaid hal. 19 berkata:   Allah Ta’ala lebih mengetahui, bahwa pernyataan ini ditujukan pada   mereka yang tidak bakal meninggalkan agamanya. Bahkan mereka akan mati   di atas agama Islam. Walau terkadang jatuh dalam dosa sebagaimana yang   terjadi pada selain mereka. Akan tetapi, Allah Ta’ala tidak meninggalkan   mereka berketerusan dalam kubangan dosa tersebut, bahkan Ia  melimpahkan  taufiq-Nya untuk bertaubat nashuha dan memohon ampun.  Sungguh,  perbuatan yang baik itu akan menghapuskan segala bekas-bekas  yang  ditinggalkan oleh dosa. Penghkususan ini dikarenakan hal itu telah   terjadi, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mendapat   ampunan”.</p>
<p>Hadits Keempat:<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>عن أبي موسى الأشعري، أن  رسول الله -صلى الله عليه  وسلم- قال: ” النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ  أَتَى  السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا  ذَهَبْتُ أَتَى  أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ  لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي  أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُون”.<br />
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi   wasallam bersabda: “Bintang-bintang itu penjaga bagi langit, jika ia   lenyap maka terjadilah pada langit apa yang telah dijanjikan. Aku adalah   penjaga bagi sahabatku, jika aku telah tiada, maka akan terjadi pada   sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah penjaga umat   ini, jika mereka tiada, maka akan terjadi pada umat ini apa yang   dijanjikan”. HR. Muslim, no. 2531</p>
<p>Hadits Kelima:</p>
<p dir="rtl">عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه، أن رسول الله -صلى الله عليه  وسلم- قال: ” أَكْرِمُوا أَصْحَابِي ، فَإِنَّهُمْ خِيَارُكُمْ “.</p>
<p>Dari Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu  alaihi  wasallam bersabda: “Muliakanlah para sahabatku, karena  sesungguhnya  mereka adalah (generasi) terbaik kalian”. HR. Abdun Ibnu  Humaid dan  al-Hakim dengan sanad Shahih. Lihat Misykat al-Mashabih,  Syaikh  al-Albani, III/1695</p>
<p>Hadits Keenam:<strong> </strong></p>
<p>عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الأَسْقَعِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله  عليه وسلم : ” لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي  وَصَاحَبَنِي وَاللهِ  لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ  رَأَى مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَ  مَنْ صَاحَبَنِي “.<br />
Dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah   shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kalian akan senantiasa berada   dalam kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah   melihat dan menemaniku. Demi Allah, kalian akan senatiasa berada dalam   kebaikan selama masih ada di antara kalian orang yang pernah melihat   orang yang melihatku dan berteman dengan orang yang menemaniku”. (HR.   Ibnu Abi Syaibah, XII/178, Ibnu Abi ‘Ashim, II/630, at-Thabarani dalam   al-Kabir, XXII/85. Dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath,   VII/5. al-Hafidz al-Haitsami berkata dalam al-Majma’, X/20: Diriwayatkan   oleh at-Thabarani melalui beberapa jalur, dan salah satunya melalui   perawi-perawi shahih).</p>
<p>Hadits Ketujuh:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ  النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” آيَةُ الْإِيمَانِ  حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ “.</p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi   wasallam, beliau bersabda: “Tanda iman itu cinta kepada kaum Anshar dan   tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”. (HR. al-Bukhari, no.   3500, dan Muslim, no. 74).</p>
<p>Di dalam beberapa riwayat bahkan disebutkan secara eksplisit jaminan   syurga kepada banyak sahabat, seperti yang disebut dalam hadits riwayat   Imam at-Tirmidzi no. 4112 dan selainnya:</p>
<p dir="rtl">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ  اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ  وَعُمَرُ فِى  الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ   وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ  الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ  فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ  وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو  عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى  الْجَنَّةِ »</p>
<p>bersabda: “Abu Bakar di syurga, Umar di syurga, Utsman di syurga, Ali  di  syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman ibn Auf di   syurga, Sa’ad (ibn Abi Waqqash) di syurga, Said (ibn Zaid ibn Amru ibn   Nufail) di syurga, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah di syurga”<br />
Sebenarnya masih banyak hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan   dan ‘adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.   Olehnya, Imam Ahmad rahimahullah mengumpulkan kurang lebih dua ribu   hadits dan atsar yang berkaitan dengan keutamaan para sahabat dalam   kitab beliau Fadhail al-Shahabah. Dan kitab yang terdiri dari dua jilid   ini telah ditahqiq Dr. Washiyullah bin Muhammad Abbas, dan dicetak oleh   Jami’ah Ummul Quro, th. 1403 H.</p>
<p>C.    KEDUDUKAN SAHABAT RASULULLAH SAW. DI KALANGAN AHLUL BAIT<br />
1.    Saling hormat dan cinta.<br />
Para sahabat Rasulullah saw. adalah orang yang paling menghormati dan   mencintai keturunan dan keluarga Rasulullah saw. -yang beriman-. Sebab   mereka faham, bahwa di antara tuntutan cinta kepada Rasulullah saw.,   adalah cinta kepada keluarga beliau yakni istri, anak, paman, sepupu,   cucu dan kerabat dekat Rasulullah saw. Disamping itu, mereka -dan   seluruh umat Islam- mendapat wasiat khusus dari Rasulullah saw. untuk   tidak menyakiti keluarga beliau saw., sebagaimana riwayat Zaid ibn Arqam   ra., oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 2408). Dalam  sejarah,  perkataan dan sikap para sahabat Rasulullah saw. terhadap  Ahlul Bait  merupakan bukti akan penunaian wasiat tersebut. Perhatikan  ucapan  sahabat yang mulia, Abu Bakar ra, sebagaimana disebutkan oleh  Ibnu Hajar  al-Asqalani dalam Fathul Bari (7/98):<br />
“Sungguh, keluarga Rasulullah saw. lebih aku cintai dari keluargaku   sendiri”<br />
Bahkan Zaid ibn Tsabit ra. ketika bertemu Abdullah bin Abbas ra. di   sebuah jalan, beliau turun dari kendaraan lalu mempersilahkan beliau   mengendarainya, seraya berkata: “Demikianlah Rasulullah saw.   memerintahkan kami untuk memperlakukan (dengan baik) keluarga beliau”.<br />
Demikian pula Ahlul Bait menghormati dan menghargai para sahabat   Rasulullah saw. yang bukan dari kerabat beliau saw. Imam Bukhari dan   Imam at-Tirmidzi (no: 3891), meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:<br />
“Saya berdiri di tengah kerumunan orang yang mendoakan Umar ibnul   Khatthab ra. (setelah beliau ditikam), saat beliau dibaringkan di   pembaringan. Tiba-tiba seorang yang ada di belakang saya meletakkan   lengannya di atas pundakku seraya berkata: Semoga Allah merahmatimu   wahai Umar, saya berharap Allah mengumpulkanmu bersama kedua sahabatmu.   Sungguh, saya sering mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Adalah saya   bersama Abu Bakar dan Umar, saya berbuat bersama Abu Bakar dan Umar,   saya pergi bersama Abu Bakar dan Umar”, maka saya sungguh berharap Allah   mengumpulkanmu kembali bersama keduanya. Saya (Ibnu Abbas) lalu  menoleh  ke belakang, ternyata orang tersebut adalah Ali ibn Abi  Thalib”.</p>
<p>Dalam banyak riwayat yang shahih, ketika Ali ibn Abi Thalib ra.   ditanya tentang orang yang paling mulia setelah Rasulullah saw., dengan   tegas beliau menjawab: Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman ra., bahkan   beliau mengancam akan mencambuk siapa saja yang melebihkan beliau atas   Abu Bakar dan Umar ra. (Lihat riwayat al-Bukhari , Imam Ahmad dalam   Musnad Ali ibn Abi Thalib ra. no. 834, 836, 837,879,880, dan Imam Ibnu   Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 1001 dan 826).<br />
Riwayat-riwayat yang banyak tentang penghargaan Ahlul Bait kepada para   sahabat telah dihimpun oleh Imam as-Syaukani dalam sebuah buku berjudul:   “Irsyadul Gabhiy ila Madzhabi Ahlil Baiti fie Sahbi an-Nabiy”.</p>
<p>2.    Hubungan pernikahan antara sesama mereka.<br />
Dalam riwayat-riwayat shahih disebutkan, Rasulullah saw. menikah dengan   Aisyah binti Abi Bakar dan Hafshah binti Umar. Abu Bakar menikah dengan   Asma binti Umais yang sebelumnya dinikahi oleh Ja’far ibn Abi Thalib,   lalu sepeninggal Abu Bakar, ia dinikahi oleh Ali ibn Abi Thalib ra.  Ummu  Farwah binti al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar (cucu Abu Bakar  ra.)  dinikahi oleh Muhammad ibn Ali al-Baqir, Umar ibn al-Khattab  menikahi  anak Ali ibn Abi Thalib ra. yang bernama Ummu Kultsum.</p>
<p>3.    Ali ibn Abi Thalib dan keturunan beliau ra. menamakan   anak-anak mereka dengan nama sahabat.<br />
Di antara anak keturunan Ali ibn Abi Thalib ra. ada yang bernama Abu   Bakar, Umar dan Utsman. Al-Hasan menamakan anak beliau Abu Bakar, dan   dua orang dengan nama Umar. Demikian pula al-Husain, Ali Zainul Abidin   menamai anak beliau Umar dan Utsman, dan beliau senang dipanggil dengan   kunyah Abu Bakar. al-Kazhim, ar-Ridha dan al-Hadi menamakan putri-putri   mereka dengan nama Aisyah.</p>
<p><strong>D.    HUKUM MENGHINA DAN MEMAKI SAHABAT RASULULLAH SAW.</strong><br />
<strong><br />
Pengertian Menghina Para Shahabat </strong><br />
Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah sebagaimana tersebut dalam kitab Hukmu   Sabbi as-Shahabah hal. 25 menafsirkan maksud dari memaki para sahabat,   yakni perkataan yang dapat menjatuhkan sifat ‘adalah (taqwa dan wara’)   para sahabat, bahwa mereka telah berbuat zalim dan fasiq sepeninggalan   Nabi shallallahu alaihi wasallam, serta mengambil urusan bukan di atas   kebenaran.<br />
Atau, membicarakan sesuatu (berkenaan dengan para sahabat) untuk tujuan   merendahkan atau menghina. Dan segala yang dapat dipahami oleh akal   manusia (menjurus ke arah demikian), menurut perbedaan keyakinan mereka.   Seperti melaknat, menyematkan (pada mereka) gelar-gelar buruk dan lain   sebagainya.(                <em>As-Sharim  al-Maslul,</em>Ibnu  Taimiyah,  hal: 561, Daar Ibni Hazm, Beirut, th. 1417 H                                                                   )</p>
<p><strong>Hukum Menghina dan Memaki Sahabat</strong><br />
Menghina dan memaki para sahabat merupakan perbuatan tercela sekaligus   dosa yang sangat besar. Bahkan pelakunya bisa keluar dari Islam atau   kafir. Yang demikian, jika hinaan terhadap sahabat itu berkaitan dengan   agama mereka. Misalnya menganggap mereka atau sebagian dari mereka  telah  kafir, murtad atau fasiq. Perbuatan ini, tidak diragukan lagi  dapat  membuat pelakunya kafir. Adapun jika celaan tersebut berkenaan  dengan  sifat-sifat (akhlak) pribadi para sahabat Nabi, maka kelancangan  ini  bisa berbuah dosa besar yang pelakunya wajib diberi hukuman.<br />
Adapun perkataan ulama tentang hukum orang yang menghina sahabat, adalah   sebagai berikut:</p>
<p>Imam Malik rahimahullah berkata: “Mereka yang membenci para sahabat   Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang kafir”.(Tafsir   al-Qur’an al-Adzim, Ibnu Katsir V/367-368.)</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: Wajib atas pemerintah   memberi hukuman dan siksaan serta tidak boleh memberi maaf baginya   (penghina sahabat). Bahkan harus menegakkan hukum dan memaksanya untuk   bertaubat.(As-Sunnah, Ahmad bin Hambal, hal: 78, Tahqiq: Syaikh   al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, th. 1400 H / 1980 M. )</p>
<p>al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Menghina salah satu dari  mereka  (sahabat) merupakan dosa besar. Menurut kami dan jumhur ulama,  bahwa  orang yang melakukan demikian pantas mendapat ta’ziir (hukuman  setimpal  menurut kebijaksanaan hakim). (Al-Syifa Bi Ta’riifi Huquq  al-Mushtafa,  II/653, tahqiq: Muhammad Amin Qurrah Ali, Muassassah Ulum  al-Qur’an,  Damaskus.)</p>
<p>al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah berkata: Yang merupakan pendapat para   fuqaha (ahli Fiqhi Islam) tentang hukum menghina sahabat: Jika ia   menghalalkan perbuatan tersebut maka ia kafir, namun jika tidak   menghalalkan maka ia fasiq.(Hukmu Sabbi as-Shahabah, Ibnu Taimiyah, hal:   33.)</p>
<p>Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: Ketahuilah, bahwa menghina  sahabat  hukumnya haram dan termasuk perbuatan haram yang keji, hukum  ini sama  saja apakah terhadap (sahabat) yang terkena fitnah atau selain   mereka.(Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi, XVI/93, Daar al-Fikr, Beirut,   th. 1401 H / 1981 M.)</p>
<p>Imam al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam kitabnya  al-Kabair  hal. 352-353: “Barangsiapa yang mencaci dan menghina mereka  (para  shahabat), maka sungguh ia telah keluar dari agama Islam dan  merusak  kaum muslimin.</p>
<p>Dalil-dalil yang mengharamkan menghina para sahabat<br />
Hadits Pertama:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري قال: َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا  تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ  أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ  ذَهَبًا مَا  أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”.</p>
<p>Dari Abu Sa’id ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: “Jangan kalian mencela seorang-pun dari sahabatku. Sungguh   jika salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas,   maka itu belum menyamai segenggam (dari infaq) mereka dan tidak pula   setengahnya”. HR. al-Bukhari, no: 3673, Muslim, no: 2541</p>
<p>Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata: “Jangan kalian memaki   sahabat-sahabat  Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sungguh   keberadaan mereka sesaat (di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam)   lebih baik dari pada amal ibadah kalian selama empat puluh tahun”.   Riwayat Ahmad dalam Fadhailus Shahabah, I/57, Ibnu Majah no: 158, Ibnu   Abi Ashim, II/484. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu   Majah, I/32.</p>
<p>Hadits Kedua:<strong> </strong></p>
<p>عن عويم بن ساعدة رضي الله عنه :” أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه  وسلم قَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اخْتَارَنِي وَاخْتَارَ لِي  أَصْحَابًا ، فَجَعَلَ لِي  مِنْهُمْ وُزَرَاءَ وَأَنْصَارًا ، فَمَنْ  سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ  أَجْمَعِينَ ، لا يَقْبَلُ اللَّهُ تَعَالَى  مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  صَرْفًا وَلا عَدْلا”.</p>
<p>Dari Uwaim bin Sa’idah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu  alaihi  wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memilih  diriku, lalu  memilih untukku para sahabat dan menjadikan mereka sebagai  pendamping  dan penolong. Maka siapa yang mencela mereka, atasnya  laknat dari Allah,  para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala  tidak akan menerima  amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib  maupun yang sunnah”. HR.  Al-Hakim dalam al-Mustadrak, beliau berkata:  Sanadnya Shahih, dan  disepakati oleh az-Dzahabi, III/632. Akan tetapi  didhaifkan oleh Syaikh  al-Albani dalam as-Silsilah ad-Dhaifah, no: 3157</p>
<p>Hadits Ketiga:<strong> </strong></p>
<p dir="rtl">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ  اللَّهِ صَلَّى  اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “اللَّهَ اللَّهَ فِي  أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا  بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ  فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ  فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ  فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي  فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ  أَنْ يَأْخُذَهُ”.</p>
<p>Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah   shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berhati-hatilah tentang   sahabatku, jangan kalian jadikan mereka bahan ejekan sepeninggalanku.   Siapa yang mencintai mereka, maka dengan cintaku aku mencintainya. Dan   siapa yang membenci mereka maka dengan kebencianku akupun membenci   mereka. Siapa yang menyakiti mereka maka sungguh ia telah menyakiti aku.   Siapa yang menyakiti aku maka ia telah menyakiti Allah. Dan siapa yang   menyakiti Allah, maka pasti Ia akan menyiksanya”. (HR. at-Tirmidzi,   beliau berkata: Hadits ini Hasan. Akan tetapi Syaikh al-Albani   menyatakan dha’if dalam Dha’if at-Tirmidzi no: 808.)</p>
<p>Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan akan haramnya  mencela  para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p><strong>ALASAN MENGAPA MENGHINA SAHABAT, HUKUMNYA KAFIR</strong><br />
Adapun alasan mengapa menghina para sahabat Rasulullah shallallahu   alaihi wasallam serta menuduh mereka dengan kekufuran, kefasikan dan   sebagainya bisa membuat pelakunya keluar dari Islam, adalah sebagai   berikut:</p>
<p>Pertama: Perkataan bahwa para penyampai al-Qur’an dan Sunnah (para   sahabat) itu kafir atau fasiq mengandung konsekwensi keraguan terhadap   keduanya. Sebab, celaan pada para penyampainya pada hakikatnya merupakan   celaan pada apa yang mereka sampaikan, yakni al-Qur’an dan Sunnah.</p>
<p>Kedua: Perkataan ini merupakan pengingkaran terhadap nash al-Qur’an  dan  as-Sunnah, berupa keterangan akan keridhaan Allah Ta’ala atas  mereka.  Padahal, pengetahuan yang bersumber dari nash al-Qur’an dan  hadits  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan mereka  itu  sifatnya qath’i. Dan siapa yang mengingkari suatu perkara yang  telah  qath’i maka ia telah kafir.</p>
<p>Ketiga: Perbuatan ini menyakiti baginda Rasulullah shallallahu alaihi   wasallam. Sebab mereka adalah sahabat-sahabat yang memiliki tempat   khusus dalam hati beliau. Menghina seseorang yang khusus baginya tidak   diragukan lagi dapat menyakiti beliau. Dan menyakiti beliau shallallahu   alaihi wasallam merupakan satu kekafiran sebagaimana ditegaskan para   ulama.<br />
Akan tetapi, semua ini tidak berarti bahwa Ahlussunnah mengkultuskan dan   menganggap para sahabat Rasulullah saw. adalah orang-orang suci yang   ma’shum dari kesalahan tidak sebagaimana asumsi kaum Syiah akan   kema’shuman Ahlul Bait. Para sahabat radhiyallahu anhum dalam pandangan   Ahlussunnah adalah manusia biasa yang bisa saja berbuat kesalahan, baik   di saat bersama Rasulullah saw., ataupun sepeninggal beliau. Namun   kesalahan-kesalahan tersebut jika dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan   mereka yang begitu banyak, serta perjuangan mereka melanjutkan risalah   Rasulullah saw., adalah ibarat butir-butir pasir pada padang sahara  yang  luas atau tetes-tetes air di samudra membentang. Imam at-Thahawi   berkata dalam matan kitab Aqidah-nya yang merupakan salah satu kitab   induk Ahlussunnah:<br />
“Dan kami cinta kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw. namun kami tidak   berlebih-lebihan dalam cinta kepada seorangpun di antara mereka dan  juga  tidak berlepas diri dari seorangpun dari mereka. Kami benci kepada  yang  membenci mereka atau menyebut mereka dengan selain kebaikan, maka  kami  tidak menyebut-nyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta  kepada  mereka adalah bagian dari agama, iman dan ihsan, sedangkan benci  mereka  adalah kekufuran, nifaq dan tindakan berlebih-lebihan”.</p>
<p>E. <strong>CONTOH TEKS DALAM KITAB INDUK KAUM SYIAH YANG MEMAKI   BAHKAN MENGKAFIRKAN SAHABAT RASULULLAH SAW.</strong><br />
Sebagian umat Islam menuduh Ahlussunnah membuat fitnah atas kaum Syiah   tentang sikap mereka terhadap sahabat Rasulullah saw. Padahal memang   demikian adanya. Olehnya, kami nukilkan beberapa teks dalam kitab induk   Syiah yang memberi ketegasan akan sikap mereka terhadap sahabat-sahabat   Rasulullah saw. Dan ini hanya sebagai contoh kecil dari contoh-contoh   yang begitu banyak tersebar, wallahul musta’an.</p>
<p>a.    Riwayat al-Kulaini dalam al-Kafi 1/420</p>
<ol></ol>
<p dir="rtl">الحسين بن محمد، عن معلى بن محمد، عن محمد بن اورمة وعلي بن  عبدالله، عن علي بن حسان،  عن عبدالرحمن بن كثير، عن أبي عبدالله عليه  السلام في قول الله عزوجل: ” إن الذين آمنوا ثم كفروا ثم آمنوا ثم كفروا ثم  ازدادوا كفرا لن تقبل توبتهم ” قال: نزلت في فلان وفلان وفلان، آمنوا  بالنبي صلى الله عليه وآله في أول  الامر وكفروا حيث عرضت عليهم الولاية،  حين قال النبي صلى الله عليه وآله: من كنت  مولاه فهذا علي مولاه، ثم آمنو  بالبيعة لامير المؤمنين عليه السلام ثم كفروا حيث  مضى رسول الله صلى الله  عليه وآله، فلم يقروا بالبيعة، ثم ازدادوا كفرا بأخذهم  من بايعه بالبيعة  لهم فهؤلاء لم يبق فيهم من الايمان شئ</p>
<p>“Al-Hasan ibn Muhammad, dari Ma’la ibn Muhammad, dari Muhammad ibn   Urmah dan Ali ibn Abdullah, dari Ali ibn Hassan, dari Abdurrahman ibn   Katsir, dari Abu Abdillah as. tentang firman Allah “Sesungguhnya   orang-orang beriman kemudian mereka kafir kemudian mereka beriman   kemudian mereka kafir kemudian bertambah kekafirannya tidaklah taubat   mereka diterima selama-lamanya”, beliau berkata: ayat ini turun pada   fulan, fulan dan fulan. Mereka beriman kepada Nabi saw. saat pertama,   lalu kafir setelah diperhadapkan kepada al-wilayah (kepemimpinan Ali),   yaitu ketika Nabi bersabda: Siapa yang menjadikanku mawla’ maka Ali-lah   mawla’nya. Kemudian mereka beriman dengan berbaiat kepada Amirul   Mukminin as., lalu setelah itu kafir sepeninggal Rasulullah saw., dimana   mereka menolak berbaiat, lalu bertambah kekafiran mereka dengan   membaiat yang mereka baiat. Sungguh, mereka-mereka itu tidak beriman   sedikitpun”.</p>
<p>b.    Riwayat al-Kulaini dalam al-Kafi 1/426</p>
<ol></ol>
<p dir="rtl">الحسين بن محمد، عن معلى بن محمد، عن محمد بن اورمة، عن علي  بن حسان عن عبدالرحمن بن  كثير، عن أبي عبدالله عليه السلام في قوله تعالى:  ” وهدوا إلى الطيب من القول  وهدوا إلى صراط الحميد ” قال: ذاك حمزة وجعفر  وعبيدة وسليمان و أبوذر والمقداد بن الاسود وعمار هدوا إلى أمير المؤمنين  عليه السلام وقوله: ” حبب إليكم  الايمان وزينه في قلوبكم (يعني أمير  المؤمنين) وكره إليكم الكفر والفسوق و والعصيان  ” الاول والثاني والثالث</p>
<p>“Al-Husain ibn Muhammad, dari Ma’la ibn Muhammad, dari Muhammad ibn   Urmah, dari Ali ibn Hassan, dari Abdurrahman ibn Katsir, dari Abu   Abdillah as. tentang firman Allah swt. “Dan mereka ditunjuki kepada   perkataan yang baik dan mereka ditunjuki jalan yang terpuji”, beliau   berkata: itu adalah Hamzah, Ja’far, Ubaidah, Sulaiman (mungkin Salman),   Abu Dzar, al-Miqdad ibnul Aswad, dan Ammar yang ditunjuki (jalan  menuju)  Amirul Mukminin as., dan firman Allah swt. “Menjadikanmu cinta  kepada  iman dan menghiasinya di hati kamu (yaitu Amirul Mukminin) dan   menjadikanmu benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan” yaitu:   yang pertama, yang kedua dan yang ketiga (yakni: Abu Bakar, Umar dan   Utsman)”</p>
<p>c.    Riwayat al-Kulaini 1/429</p>
<ol></ol>
<p dir="rtl">وبهذا الاسناد، عن يونس، عن صباح المزني، عن أبي حمزة، عن  أحدهما عليهما السلام  في قول الله عزوجل: ” بلى من كسب سيئة وأحاطت به  خطيئته ” قال: إذا جحد إمامة أمير المؤمنين عليه السلام ” فأولئك أصحاب  النار هم فيها خالدون … فقال: ” الذين آمنوا به (يعني الامام) وعزروه  ونصروه واتبعوا النور الذي انزل معه  اولئك هم المفلحون ” يعني الذين  اجتنبوا الجبت والطاغوت أن يعبدوها والجبت والطاغوت فلان وفلان وفلان  والعبادة طاعة الناس لهم</p>
<p>“Dengan sanad yang sama, dari Yunus, dari Shabah al-Muzani, dari Abu   Hamzah, dari salah satu dari keduanya as. tentang firman Allah swt.   “Bahkan barangsiapa yang melakukan dosa dan diliputi oleh kesalahannya”,   beliau berkata: Jika ia mengingkari kepemimpinan Amirul Mukminin as.   “Mereka itulah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya” lalu   berkata “Orang-orang yang beriman kepadanya (yaitu Ali) mendukungnya,   menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersama dengannya maka   mereka itulah yang mendapatkan keberuntungan” yaitu orang-orang yang   menjauhi al-Jibt dan Thagut untuk menyembahnya. al-Jibt (berhala) dan   Thagut adalah fulan, fulan dan fulan, menyembahnya adalah ketaatan   manusia kepada mereka”.</p>
<p>Kalimat fulan dan fulan dalam beberapa riwayat ini ditegaskan   kemudian oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar- nya yaitu: Abu Bakar dan   Umar (23/306).</p>
<p>d.    Riwayat al-Kulaini dalam kitabnya al-Kafi 2/244</p>
<ol></ol>
<p dir="rtl">عدة من أصحابنا، عن سهل بن زياد، عن محمد بن اورمة، عن النضر،  عن يحيى بن أبي خالد القماط، عن حمران بن أعين قال: قلت لابي جعفر عليه  السلام: جعلت فداك ما أقلنا لو اجتمعنا على شاة ما أفنيناها؟ فقال: ألا  احدثك بأعجب من ذلك، المهاجرون والانصار ذهبوا إلا وأشار بيده  ثلاثة</p>
<p>“Sebagian sahabat kami meriwayatkan dari Sahl ibn Ziyad, dari   Muhammad ibn Urmah, dari an-Nadhr, dari Yahya ibn Abi Khalid al-Qummath,   dari Humran ibn A’yun, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Ja’far as.:   Aku adalah tebusanmu, betapa sedikit jumlah kita, hingga jika berkumpul   pada hidangan seekor kambing, niscaya tidak akan habis”. Maka beliau   berkata: “Maukah kuberitahu tentang sesuatu yang lebih aneh dari itu ?   kaum Muhajirun dan Anshar telah berlalu kecuali (lalu menunjuk hanya   tiga orang)”.</p>
<p>e.    al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, 8/208-252 mencantumkan dengan   tegas bab dengan judul: Kekafiran Ketiganya (Abu Bakar, Umar dan   Utsman), Sifat Nifaq dan Perbuatan Buruk Mereka.</p>
<p>f.    Riwayat al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, 27/58</p>
<ol></ol>
<p dir="rtl">عن أبي حمزة الثمالي قال : قال أبوجعفر عليه السلام : ياأبا  حمزة إنما يعبد الله من عرف الله وأما  من لايعرف الله كانما يعبد غيره  هكذا ضالا ، قلت : أصلحك الله وما معرفة الله ؟ قال : يصدق الله ويصدق  محمدا رسول الله صلى الله عليه وآله في موالاة علي  والايتمام به وبأئمة  الهدى من بعده ، والبراءة إلى الله من عدوهم ، وكذلك عرفان الله . قال :  قلت : أصلحك الله أى شئ إذا عملته أنا استكملت حقيقة الايمان ؟ قال  :توالي  أولياء الله وتعادي أعداء الله وتكون مع الصادقين كما أمرك الله ، قال :   قلت :ومن أولياء الله ؟ فقال : أولياء الله محمد رسول الله وعلي والحسن  والحسين وعلي  بن الحسين ثم انتهى الامر إلينا ثم ابني جعفر ، وأومأ إلى  جعفر وهو جالس ، فمن  والى هؤلاء فقد والى أولياء الله وكان مع الصادقين  كما أمره الله . قلت : ومن أعداء الله أصلحك الله ؟ قال : الاوثان الاربعة ،  قال : قلت : من هم ؟ قال : أبوالفصيل ورمع ونعثل  ومعاوية ومن دان دينهم ،  فمن عادى هؤلاء فقد عادى أعداء الله</p>
<p dir="rtl">بيان : قوله : هكذا ،  كأنه عليه السلام أشار إلى الخلف أو  إلى اليمين والشمال ، أي حاد عن الطريق الموصل إلى النجاة فلا يزيده  كثرة  العمل إلا بعدا عن المقصود كمن ضل عن الطريق ، وأبوالفصيل أبوبكر لان  الفصيل  والبكر متقاربان في المعنى ، ورمع مقلوب عمر ، ونعثل هو عثمان كما  صرح به في كتب  اللغة .</p>
<p>“Dari Abu Hamzah at-Tsumali, ia berkata: Abu Ja’far as. berkata:  Wahai  Abu Hamzah Hanyalah yang menyembah Allah itu siapa yang  mengenal-Nya,  adapun yang tidak mengenal-Nya, maka ia seperti menyembah  selainNya  -begitu ia sesat-”, aku berkata: “Semoga Allah memperbaiki  anda, apakah  yang dimaksud mengenal Allah ?”, beliau menjawab:  “Membenarkan Allah,  membenarkan Muhammad Rasulullah dalam muwalah Ali  dan berimam kepadanya  dan kepada para imam yang mendapat petunjuk  setelahnya, serta berlepas  diri kepada Allah dari para musuh mereka,  demikianlah ma’rifatullah”.  Aku kembali bertanya: “Semoga Allah  memperbaiki anda, amalan apakah yang  jika kulakukan niscaya aku telah  menyempurnakan hakikat iman ?”, beliau  menjawab: “Engkau berwala’  kepada wali-wali Allah dan berlepas diri  dari musuh-musuh Allah serta  bersama kaum shadiqin sebagaimana yang Ia  perintahkan”. Aku bertanya:  “Siapakah wali-wali Allah ?”, beliau  menjawab: “Wali-wali Allah adalah  Muhammad Rasulullah, Ali, al-Hasan,  al-Husain, Ali ibn al-Husain, lalu  sampai ke kami, kemudian anak saya  Ja’far (sambil menengok ke Ja’far  yang sedang duduk), maka siapa yang  berwala’ kepada mereka berarti ia  sudah berwala’ kepada wali-wali Allah  dan sudah bersama kaum shadiqin  sebagaimana yang Allah perintahkan”. Aku  bertanya lagi: “Lalu siapakah  musuh-musuh Allah itu semoga Allah  memperbaiki anda ?”, beliau  menjawab: “Berhala yang empat”. Aku  bertanya: “siapa mereka ?”, beliau  menjawab: “Abu al-Fashil, Ruma’,  Na’tsal dan Muawiyah serta yang  mengikuti agama mereka, maka siapa yang  memusuhi mereka berarti ia  telah memusuhi musuh-musuh Allah.<br />
Al-Majlisi menjelaskan: … Abu al-Fashil adalah Abu Bakar sebab kata   al-Fashil semakna dengan Bakar (anak onta), Ruma’ adalah kata Umar yang   dibalik, Na’tsal adalah Utsman sebagaimana yang ditegaskan di dalam   kitab Bahasa Arab.</p>
<p>g.    Riwayat al-Ayasyi dalam Tafsirnya 2/243 yang juga disebut oleh   al-Majlisi dalam Biharul Anwar 4/378, 8/220</p>
<ol></ol>
<p>عن أبى بصير عن جعفر بن محمد <strong>(عليه السلام)</strong> قال: يؤتى  بجهنم لها سبعة أبواب، بابها الاول للظالم وهو زريق وبابها الثانى  لحبتر،  والباب الثالث للثالث، والرابع لمعاوية، والباب الخامس لعبد الملك والباب   السادس لعسكر بن هوسر، والباب السابع لابى سلامة فهم أبواب لمن اتبعهم<br />
Dari Abu Bashir, dari Ja’far ibn Muhammad as. berkata: “Akan didatangkan   Neraka Jahannam dengan tujuh buah pintu, pintu pertama untuk yang  zalim  yaitu Zariq, pintu kedua untuk Habtar, pintu ketiga untuk yang  ketiga,  keempat untuk Muawiyah, kelima untuk Abdul Malik, keenam untuk  Askar ibn  Hausar dan pintu ketujuh untuk Abu Salamah, mereka semua  adalah pintu  bagi pengikut-pengikutnya”.<br />
al-Majlisi menjelaskan: zariq adalah kiasan terhadap (khalifah) yang   pertama …, habtar adalah serigala dan kemungkinan dikiaskan seperti  itu  adalah karena tipu dan makarnya …, Askar ibn Hausar adalah kiasan   terhadap para khalifah Bani Umayyah atau Abbasiyah, Abu Salamah adalah   kiasan terhadap Abu Ja’far ad-Dawaniqi, dan kemungkinan Askar adalah   kiasan terhadap Aisyah dan seluruh pasukan dalam perang Jamal sebab onta   Aisyah bernama Askar …</p>
<p>h.    Riwayat al-Qummi dalam tafsirnya 1/301</p>
<p dir="rtl">احمد بن الحسن التاجر قال حدثنا الحسن بن على بن عثمان الصوفى  قال حدثنا زكريا  بن محمد عن محمد بن على عن جعفر بن محمد (عليهما السلام)  قال: لما اقام رسول الله  (صلى الله عليه وآله) امير المؤمنين يوم غدير خم  كان بحذائه سبعة نفر من  المنافقين وهم فلان وفلان وعبدالرحمن بن عوف وسعد  بن ابى وقاص وابوعبيده وسالم مولى ابى  حذيفه والمغيره بن شعبة قال الثانى  اما ترون عينه كانما عينا مجنون يعنى النبى  الساعة يقوم ويقول قال لى ربى  فلما قام قال ايها الناس من اولى بكم من انفسكم  قالوا الله ورسوله قال  اللهم فاشهد ثم قال الا من كنت مولاه فعلى مولاه وسلموا عليه  بامرة  المؤمنين فنزل جبرئيل واعلم رسول الله بمقالة القوم فدعاهم وسألهم فانكروا   وحلفوا فانزل الله (يحلفون بالله ما قالوا الخ) ثم ذكر البخلاء وسماهم  منافقين  وكاذبين فقال (ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله ـ إلى قوله  اخلفوا الله ما  وعدوه وبما كانوا يكذبون)</p>
<p>Ahmad ibn al-Hasan at-Tajir, berkata: al-Hasan ibn Ali ibn Utsman   as-Sufi telah menceritakan kepada kami, bahwa Zakariya ibn Muhammad   telah menceritakan kepadanya, dari Muhammad ibn Ali, dari Ja’far ibn   Muhammad as. berkata: “Ketika Rasulullah saw. mendirikan Amirul Mukminin   pada peristiwa Ghadir Khum, ikut hadir di samping beliau tujuh orang   munafik yaitu fulan, fulan, Abdurrahman ibn Auf, Sa’ad ibn Abi Waqqash,   Abu Ubaidah, Salim Mawla Abi Hudzaifah, dan al-Mughirah ibn Syu’bah.   Lalu yang kedua berkata tentang Rasulullah saw. di saat berdiri:   “Tidakkah kamu sekalian melihat matanya seakan-akan mata orang gila. dan   berkata Tuhanku kepadaku, ketika Rasulullah berdiri, beliau berkata:   Wahai sekalian manusia, siapakah yang paling utama dari diri-diri kamu   ?, serentak mereka menjawab: Allah dan RasulNya, beliau berkata: Ya   Allah saksikanlah. Lalu beliau berkata: “Siapa yang menjadikanku mawla   maka Ali adalah mawla-nya, dan serahkanlah kepadanya kepemimpinan kaum   mukminin”. Tiba-tiba malaikat Jibril turun menyampaikan kepada   Rasulullah perkataan kaum tersebut, maka beliau memanggil mereka dan   menanyakan akan hal itu tapi mereka mengingkarinya bahkan dengan sumpah,   maka Allah menurunkan ayat: “Mereka bersumpah tidak mengucapkannya …”   kemudian Ia menyebut kamu bakhil dan menamakan mereka munafiq dan   pendusta: “dan di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah jika   diberi karunia … mengkhianati Allah dari apa yang mereka janjikan dan   atas apa yang mereka dustakan”.</p>
<p>i.    Kaum syiah kontemporer pun tidak luput dari tradisi buruk   pendahulu mereka ini. Dalam buku doa yang dikeluarkan oleh Manshur   Husain yang berjudul Tuhfatul Awam hal. 423-424 terdapat doa yang   ditawtsiq oleh pemimpin-pemimpin Syiah di antaranya adalah al-Khu’i dan   al-Khomeini, bunyinya:</p>
<ol></ol>
<p>اللهم العن صنمي قريش وجبتيها وطاغوتيها وإفكيها وابنتيهما الذين خالفا  أمرك  وأنكرا وحيك وجحدا إنعامك وعصيا رسولك وقلبا دينك وحرفا كتابك وأحبا  أعداءك وجحدا آلاءك  – كذا-  وعطلا أحكامك وألحدا في آياتك …“Ya Allah,  laknatlah dua berhala Quraisy (Abu Bakar  dan Umar), jibtinya,  thaghutnya, pendustanya beserta kedua putri mereka  (Aisyah dan Hafsah).  Keduanya telah menyelisihi perintah-Mu, mengingkari  wahyu-Mu,  mengingkari nikmat-Mu, bermaksiat kepada RasulMu, mengubah  agamaMu,  menyimpangkan KitabMu, mencintai musuh-musuhMu, mengingkari  karuniaMu,  meninggalkan hukum-hukumMu, ingkar terhadap ayat-ayatMu …”.<br />
j.    Dan tidak lupa Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, tokoh Syiah   Indonesia, ikut akan tradisi buruk pendahulunya ini. Dalam bukunya   al-Mushthafa, Manusia Pilihan Yang Disucikan (yang merupakan “copy   paste” dari kitab karya Ja’far Murtadha al-Amili yang berjudul as-Shahih   min Siratin Nabiyyil A’zham) hal. 24 footnote no. 6 dengan mengutip   perkataan Ibnu Abil Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah: “Banyak di   antara sahabat kami mengecam agama Muawiyah. Mereka tidak hanya   menganggapnya fasik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia kafir karena   tidak meyakini kenabian. Mereka banyak mengutip ucapan-ucapannya yang   menunjukkan ke arah itu”. Tidak ada komentar sedikitpun dari pak   professor akan kutipan ini. Dan untuk diketahui bahwa buku al-Mushthafa   mengandung banyak kebohongan yang dibangun di atas riwayat-riwayat   dusta, namun kesempatan membahasnya insya Allah di kesempatan lain.</p>
<p><strong>KESIMPULAN:</strong><br />
1.    Sahabat Rasulullah saw. adalah generasi yang dibimbing langsung   oleh Rasulullah saw. dan telah mendapatkan pujian dari Allah dan   Rasul-Nya.<br />
2.    Ahlussunnah memandang bahwa sahabat Rasulullah adalah generasi   terbaik umat ini dan patut menjadi panutan dalam takwa dan wara’.   Walaupun mereka bukanlah orang-orang yang ma’shum dari kesalahan, namun   kesalahan mereka tersebut tidak menjatuhkan kredibilitas mereka   sedikit-pun.<br />
3.    Menghina dan mencaci sahabat Rasulullah saw. adalah kekufuran yang   telah jelas keharamannya.<br />
4.    Kaum Syiah adalah kaum yang suka menghina dan mencaci sahabat   Rasulullah saw.</p>
<p><strong>RENUNGAN:</strong><br />
Generasi terbaik setiap nabi adalah sahabat-sahabat mereka, generasi   terbaik Nabi Musa adalah sahabat dekat beliau, generasi terbaik Nabi Isa   adalah kaum hawariyyun dan mereka adalah sahabat dekat beliau, maka   bagaimana mungkin tuduhan kaum Syiah bahwa sebagian besar   sahabat-sahabat Rasulullah saw. adalah kafir dan murtad sepeninggal   beliau dapat diterima agama dan akal sehat ? Allahul Musta’an.</p>
<p>http://www.wahdah.or.id/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=262&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/05/sahabat-rasulullah-saw-dalam-pandangan-ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“YESUS” BELUM WAFAT</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/04/%e2%80%9cyesus%e2%80%9d-belum-wafat/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/04/%e2%80%9cyesus%e2%80%9d-belum-wafat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 22:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Isa]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[wafat]]></category>
		<category><![CDATA[yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Di antara keyakinan Ahlussunnah, yang membedakannya dengan kelompok  lain adalah aqidah tentang masih hidupnya Nabi Isa. Beliau ada di langit dan suatu saat nanti menjelang kiamat akan turun. Yang membedakannya dengan aqidah orang Kristen adalah keyakinan kita bahwa beliau akan datang menegakkan syari’at Islam,membunuh babi, menghancurkan salib serta bahu membahu dengan kaum Muslimin bersama Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=259&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Di antara keyakinan Ahlussunnah,  yang membedakannya dengan kelompok  lain adalah aqidah tentang masih  hidupnya Nabi Isa. Beliau ada di<span id="more-259"></span> langit dan suatu saat nanti menjelang  kiamat akan turun.<br />
Yang membedakannya dengan aqidah orang Kristen adalah keyakinan kita  bahwa beliau akan datang menegakkan syari’at Islam,membunuh babi,  menghancurkan salib serta bahu membahu dengan kaum Muslimin bersama Imam  mereka al-Mahdi guna melawan Dajjal bersama para tentaranya.</p>
<p>Pembahasan kali ini mencoba menyorot persoalan ini. Sebab tidak  sedikit dari kaum Muslimin yang  menolak judul di atas karena dianggap  non sense. Selamat menyimak !<br />
Nabi Isa ‘alaihissalam -atau dalam lidah  orang barat  disebut yesus-belumlah meninggal. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an  menunjukkan bahwa beliau tidaklah meninggal ataupun dibunuh, tetapi  beliau telah diangkat ke langit.</p>
<p>Hal ini sebagaimana diterangkan oleh ayat berikut: “Dan karena ucapan  mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam,  Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula  menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan  dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham  tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang  dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh  itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin  bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah  telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi  Mahabijaksana. (Surat an-Nisaa’: 157-158)</p>
<p>Dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris, kita mendapati beberapa  ayat yang diterjemahkan memberi kesan bahwa Nabi Isa wafat sebelum Ia  diangkat ke keharibaan Allah. Ayat-ayat ini adalah sebagai berikut:  (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan  menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu  kepada-Ku…(Surah Ali Imran: 55)</p>
<p>Pada surat al-Maa’idah ayat 117, peristiwa tersebut diceritakan  dengan perkataan Nabi Isa yang juga diterjemahkan seperti itu,  seolah-olah menyiratkan arti yang sama bahwa beliau telah wafat: “Aku  tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau  perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku  dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku  berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku,  Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas  segala sesuatu.” (Surat al-Maa’idah: 117)</p>
<p>Meskipun demikian, makna bahasa Arab dari ayat-ayat di atas  menunjukkan bahwa Nabi Isa AS, tidak meninggal dalam arti yang kita  pahami. Dalam bahasa Arab, kata yang diterjemahkan dalam ayat-ayat  tersebut menjadi “meninggal” (to die) adalah kata “tawaffa” dan berasal  dari kata “wafa’” (memenuhi/mengabulkan). Tawaffa tidak berarti  “kematian” tetapi merupakan aksi “penarikan jiwa kembali”, baik dalam  keadaan tidur maupun meninggal. Juga dari Al-Qur’an, kita memahami bahwa  “penarikan jiwa kembali” tidak serta merta bermakna kematian. Misalnya,  dalam satu ayat di mana kata “tawaffa” digunakan, makna yang dimaksud  bukanlah kematian seorang manusia, tetapi “penarikan jiwa dari  tidurnya”: Dan Dialah yang menidurkan kamu (yatawaffaakum) di malam hari  dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia  membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang  telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia  memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (Surat al-An’aam:  60). Kata yang digunakan untuk “menarik kembali” dalam ayat ini adalah  sama dengan kata yang digunakan dalam surat Ali Imran ayat 55. Dengan  kata lain, dalam kedua ayat tersebut, kata “tawaffa” digunakan dan  maknanya jelas bahwa seseorang tidak mati dalam kondisi tidurnya. Karena  itu, apa yang dimaksudkan di sini adalah “menarik jiwa kembali”. Makna  yang sama juga berlaku pada ayat berikut: “Allah memegang jiwa (orang)  ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu  tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah dia tetapkan  kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang  ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda  kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Terjemah al Qur’an Surat  az-Zumar: 42)</p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat ini, Allah menarik jiwa orang  yang sedang tidur, namun Dia mengirim kembali jiwa-jiwa tersebut kepada  mereka yang waktu kematiannya belum ditentukan. Dalam konteks ini   tidur, seseorang tidaklah wafat dalam arti meninggal. Akan tetapi, ini  untuk periode yang temporal, jiwa meninggalkan tubuh dan tetap pada  dimensi yang lain. Ketika kita terbangun, jiwa pun kembali ke dalam  tubuh.</p>
<p>Imam al-Qurtubi menjelaskan bahwa ada tiga makna dalam istilah  ‘wafat’: wafat kematian, wafat tidur, dan terakhir wafat diangkat kepada  Allah. Kondisi terakhir inilah  yang terjadi pada Nabi Isa AS.  Kesimpulannya, kita dapat mengatakan bahwa Nabi Isa kemungkinan berada  pada suatu tempat yang khusus, diangkat keharibaan Allah. Apa yang  sebenarnya dia alami bukanlah kematian dalam arti yang biasa kita  pahami, melainkan benar-benar merupakan suatu keberangkatan dari dimensi  ini.</p>
<p><strong>Nabi Isa  Akan Kembali ke Bumi </strong><br />
Dari apa yang sejauh ini telah diterangkan, yang pasti adalah beliau  akan turun ke bumi menjelang hari kiamat. Jabir bin Abdullah berkata,  “Saya mendengarkan Rasulullah bersabda, ‘Umatku tidak akan berhenti  berperang untuk membela yang benar hingga datang hari kiamat’.  Rasulullah lalu bersabda, ‘Kemudian, turunlah Isa bin Maryam dan  pemimpin mereka berkata, ‘Ke sinilah dan pimpinlah kami dalam shalat’,  namun dia akan berkata, ‘Tidak! Sebab sebagian kalian adalah pemimpin  untuk sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini  (HR. Muslim), Jadi dengan demikian, Yesus belum wafat ! Wallahu Ta’ala  a’lam [ab]</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=259&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/04/%e2%80%9cyesus%e2%80%9d-belum-wafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dusta, Himbauan Ukhuwah Islamiyah Kaum Syiah</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/03/dusta-himbauan-ukhuwah-islamiyah-kaum-syiah-2/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/03/dusta-himbauan-ukhuwah-islamiyah-kaum-syiah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 22:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syi&#039;ah]]></category>
		<category><![CDATA[aliran]]></category>
		<category><![CDATA[dusta]]></category>
		<category><![CDATA[hidayatullah]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Ahlul Bait Indonesia menyerukan pentingnya persatuan, kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah. Tapi itu dinilai hanya kedok oleh pengamat. Hidayatullah.com –Pernyataan Ketua Pengarah Acara Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia V yang juga tokoh Syiah Indonesia, Hasan Daliel al Aydrus, yang menyerukan persatuan dan kebersamaan untuk membangun kewibawaan Bangsa Indonesia dan ukhuwah kaum muslimin, dinilai penulis buku buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=256&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Ahlul Bait Indonesia menyerukan  pentingnya persatuan, kebersamaan dan  ukhuwah Islamiyah. Tapi itu  dinilai hanya kedok oleh pengamat.</p>
<p><em><strong>Hidayatullah.com –</strong></em>Pernyataan Ketua Pengarah  Acara  Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia V yang juga tokoh  Syiah  Indonesia, Hasan<span id="more-256"></span> Daliel al Aydrus, yang menyerukan persatuan dan   kebersamaan untuk membangun kewibawaan Bangsa Indonesia dan ukhuwah  kaum  muslimin, dinilai penulis buku buku “Paham dan Aliran Sesat di   Indonesia” Hartono Ahmad Jaiz, sebagai pernyataan yang absurd, bohong,   dan hanya upaya menyembunyikan kedok.</p>
<p>Peniliti soal aliran sesat  di Indonesia ini menilai,  pernyataan  Daliel tersebut merupakan  kebohongan dan dusta.</p>
<p>“Jelas ini bohong dan dusta. Ukhuwah  Islamiyah yang mana?. Mereka  menghina para sahabat. Syiah yang ada di  dunia ini imamnya itu jelas,  adalah ghulat,” kata Ahmad Jaiz, ketika  dimintai keterangannya <a href="http://www.hidayatullah.com/">Hidayatullah.com</a>, Senin  (05/04)  kemarin.</p>
<p>Syiah Ghulat adalah kelompok Syiah yang  berlebihan dalam memuja  Sayidina Ali bin Abu Thalib, bahkan  menganggapnya sebagai Tuhan dan roh  Allah adalah roh Ali.</p>
<p>Kalau  memamg akan dilakukan dialog antar Sunni dan Syiah, menurut  Ahmad Jaiz,  maka sudah pasti kaum syiah akan memilih juru bicara atau  tokoh yang  sudah dikenal kuat pembelaannya terhadap aliran syiah dan  pengusung  paham sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme).</p>
<p>“Kalau  seperti itu pilihan mereka, berarti mereka sudah percaya  diri. Mereka  (syiah, red) sudah merasa kuat dengan dukungan dari ulama  yang dekat  dengan syiah, seperti Said Aqil Siradj dan Gusdur,” sebut  Ahmad Jaiz.</p>
<p>Menurut  Ahmad Jaiz, kekeliruan Daliel adalah pernyataannya yang  sangat  mengagung-agungkan persatuan dan ukhuwah ummat Islam di atas   segala-galanya, padahal aqidah tidak mungkin bersatu.</p>
<p>“Di Iran  pusat Syiah sendiri, tidak ada masjid sunni yang bisa  berdiri. Padahal  gereja, sinagog tetap dibiarkan berdiri. Ulama-ulama  sunni dibunuhi.  Madrasah dihancurkan. Persatuan apa yang mau  ditegakkan?. Ukhuwah yang  mana kalau seperti ini?,” lanjutnya.</p>
<p>Sehingga, tegas Ahmad  Jaiz, seruan silatnas Ahlul Bait Indonesia  yang menyerukan persatuan dan  kebersamaan untuk membangun kewibawaan  bangsa Indonesia dan ukhuwah  kaum muslimin, adalah kebohongan yang  besar.</p>
<p>Lebih jauh,  Hartono mengumpamakan kaum Syiah  dengan seorang dukun.  “Siapa yang tau  seorang dukun yang musyrik bisa lolos naik haji.  Begitupun kaum syiah,”  jelas Ahmad Jaiz.</p>
<p>Ahmad Jaiz mewanti-wanti kepada kaum  muslimin untuk mawas diri  dengan segala bentuk aliran sesat dan  sempalan-sempalan Islam yang ada  saat ini, termasuk aliran syiah. Sebab  kata dia, gerakan semacam itu  akan semakin gencar dalam setiap aksinya  dengan cara bergabung kepada  gerakan sepilis dan kebebasan berkeyakinan.</p>
<p>“Ummat  Islam harus waspada dan mawas diri, sebab mereka akan  bergabung dengan  sepilis dan gerakan kebebasan berkeyakinan,” ujarnya.<br />
Sebagaimana  diberitakan sebelumnya, Ketua Pengarah Acara Silaturahmi  Nasional Ahlul  Bait Indonesia V yang juga tokoh Syiah Indonesia, Hasan  Daliel al  Aydrus, menyatakan, pihaknya siap duduk bersama satu meja  dengan  kalangan Ahlussunnah dalam mendialogkan masalah Sunni dan Syiah  di  Indonesia dengan dimediasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).</p>
<p>Acara  silatnas Ahlul Bait Indonesia tersebut juga menyerukan  pentingnya  kebersamaan dan persatuan untuk membangun kewibawaan Bangsa  Indonesia  dan kaum muslimin.</p>
<p>Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia  ke V ini digelar di Asrama  Haji Pondok Gede, Jakarta. Acara yang  berlangsung selama 3 hari pada  tanggal 02 hingga 04 April 2010 itu ikut  dihadiri Ketua Mahkamah  Konstitusi Machfud MD, mantan Kepala BIN,  A.M.Hendropriyono, Menteri  Kehutanan Zulkfli Hasan, pendiri penerbit  Mizan, Haidar Bagir, sejumlah  ustadz Syi’ah Ahlul Bait Indonesia, Hasan  Dalil Alaydrus, Omar Othman  Shihab, serta Direktur Islamic Cultural  Center (pusat kebudayaan Iran),  Mohsen Hakimollahi.</p>
<p>Acara  dihari 250-an orang dari berbagai yayasan dan mejelis taklim  ahlul bait  dari Aceh hingga Papua.</p>
<p>http://hidayatullah.com/berita/lokal/11298–dusta-himbauan-ukhuwah-islamiyah-kaum-syiah</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=256&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/03/dusta-himbauan-ukhuwah-islamiyah-kaum-syiah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DAMPAK MAKSIAT TERHADAP IMAN</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/02/dampak-maksiat-terhadap-iman/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/02/dampak-maksiat-terhadap-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 22:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kitab]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui adalah 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan “la ilaha illallah” dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang berupa mengerjakan (kebaikan) maupun meninggalkan (larangan). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=254&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Maksiat adalah lawan ketaatan,  baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu  larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui adalah 70  cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan “la ilaha illallah” dan yang  terendah adalah menyingkirkan gangguan di<span id="more-254"></span> jalan.</p>
<p>Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang  berupa mengerjakan (kebaikan) maupun meninggalkan (larangan). Karena itu  maksiat juga berbeda-beda. Dan maksiat berarti keluar dari ketaatan.  Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa  membatalkan iman.</p>
<p>Sebagaimana Allah menceritakan tentang Fir’aun dengan firmanNya:</p>
<p><strong>فَكَذَّبَ وَعَصَى</strong></p>
<p>“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.” (QS. An-Nazi’at [79] :  21)</p>
<p>Dan terkadang maksiat itu tidak sampai pada derajat tersebut sehingga  tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi  iman. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri,  minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini  kehalalannya, maka hilang rasa takut, khusyu’ dan cahaya dalam hatinya;  sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya.</p>
<p>Lalu jika ia bertaubat kepada Allah dan melakukan amal shalih maka  kembalilah khasyyah dan cahaya itu ke dalam hatinya. Apabila ia terus  melakukan kemaksiatan maka bertambahlah kotoran dosa itu di dalam  hatinya sampai menutupi serta menguncinya -na’udzubillah!-. Maka ia  tidak lagi mengenal yang baik dan tidak me-ngingkari kemungkaran.</p>
<p>Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu  anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya  orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di  hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka  mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik  hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh  Allah dalam Al-Quran: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang  selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14,  HR. Ahmad, II/297)</p>
<p>Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman,  yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka  akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia  hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang  itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Se-makin bertambah cabangnya  maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka  buruklah pohon itu.</p>
<p>Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun  batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak  mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka  keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula  maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat  pengurangan dan aib dalam kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan  besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut.  Wallahu a’lam!</p>
<p>Sumber: Kitab Tauhid 2, karya DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al           Fauzan</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=254&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/02/dampak-maksiat-terhadap-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM PELAKU DOSA BESAR</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/01/hukum-pelaku-dosa-besar/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/01/hukum-pelaku-dosa-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 22:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kabirah]]></category>
		<category><![CDATA[kitab]]></category>
		<category><![CDATA[pelaku]]></category>
		<category><![CDATA[Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Dosa Terbagi Menjadi Dosa Besar Dan Kecil 1. Dosa Besar (Kabirah) Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had di dunia atau yang diancam oleh Allah dengan Neraka atau laknat atau murkaiNya. Adapula yang berpendapat, dosa besar adalah setiap maksiat yang dilakukan seseorang dengan terang-terangan (berani) serta meremehkan dosanya. Contoh dosa besar adalah sebagaimana disebutkan dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=251&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Dosa Terbagi Menjadi Dosa Besar  Dan Kecil</p>
<p><strong>1. Dosa Besar (Kabirah)</strong></p>
<p>Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had di dunia atau yang  diancam oleh Allah dengan Neraka atau laknat atau murkaiNya. Adapula<span id="more-251"></span> yang berpendapat, dosa besar adalah setiap maksiat yang dilakukan  seseorang dengan terang-terangan (berani) serta meremehkan dosanya.</p>
<p>Contoh dosa besar adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu  Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam  bersabda: “Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan. Mereka  bertanya, ‘Apa itu?’ Beliau menjawab, Syirik kepada Allah, sihir,  membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan  riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan,  menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari  kemaksiatan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>2. Dosa Kecil (Shaghirah)</strong></p>
<p>Yaitu segala dosa yang tidak mempunyai had di dunia, juga tidak  terkena ancaman khusus di akhirat. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa  kecil adalah setiap kemaksiatan yang dilakukan karena alpa atau lalai  dan tidak henti-hentinya orang itu menyesali perbuatannya, sehingga rasa  kenikmatannya dengan maksiat tersebut terus memudar.</p>
<p>Contoh dosa kecil adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah  Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam  bersabda: “Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia  mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah  memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah  berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah  melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu  dibenarkan oleh kemaluan atau didusta-kanya.” (HR. Muslim, no. 2657)</p>
<p>Dalil pembagian dosa menjadi besar dan kecil adalah firman Allah:</p>
<p><strong>إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ  عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا</strong></p>
<p>“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang  kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu  (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia  (Surga).” (QS. An-Nisa’[4]: 31)</p>
<p><strong>الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ  إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ  بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي  بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ  اتَّقَى</strong></p>
<p>“(Yaitu) orang yang mejauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang  selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas  ampunanNya.” (QS. An-Najm [53]: 32)</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka  berkata: “Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa  kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus.”</p>
<p><strong>Madzhab Ahlus Sunnah Tentang Pelaku Dosa Besar</strong></p>
<p>Sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir  jika dia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia adalah mukmin dengan  keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah  kehendak Allah. Apabila berkehendak, Dia mengampuninya dan apabila Ia  berkehendak pula, maka Ia menyiksa di Neraka karena dosanya, kemudian Ia  mengeluarkannya dan tidak menjadikannya kekal di Neraka.</p>
<p>Berbeda dengan kelompok-kelompok sesat yang ekstrim dalam hal ini.  Mereka adalah:</p>
<p><strong>1. Murji’ah</strong>: Golongan yang menyatakan maksiat tidak  membahayakan (berpengaruh buruk) bagi orang beriman, sebagaimana  ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.</p>
<p><strong>2. Mu’tazilah</strong>: Mereka yang mengatakan bahwa orang  yang berdosa besar ini tidak mukmin dan tidak juga kafir, tetapi ia  berada pada tingkatan yang ada diantara dua tingkatan tersebut. Namun  demikian, apabila ia keluar dari dunia tanpa bertaubat maka ia kekal di  Neraka.</p>
<p><strong>3. Khawarij</strong>: Mereka mengatakan bahwa orang yang  berdosa besar adalah kafir dan kekal di Neraka.</p>
<p><strong>Dalil-dalil Ahlus Sunnah</strong></p>
<p>Ahlus Sunnah berhujjah dengan dalil-dalil yang banyak sekali dari  Al-Qur’an dan Al-Hadits, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:</li>
</ol>
<p><strong>وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا  فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى  فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ  فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ  يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (9) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا  بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)</strong></p>
<p>“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka  damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu  berbuat aniaya terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang  berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah;  jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka  damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.  Sesungguhnya Allah me-nyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya  orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara  kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat  rahmat.” (QS. Al-Hujarat [49]: 9-10)</p>
<p>Segi istidlal (pengambilan dalil)-nya: Allah tetap mengakui ke-manan  pelaku dosa peperangan dari orang-orang mukmin dan bagi para pembangkang  dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Dia menjadikan  mereka menjadi bersaudara. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin  untuk mendamaikan antara saudara-saudara mereka seiman.</p>
<p>2. Abu Said Al-Khudri Radhiallaahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah  Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Allah memasukkan penduduk Surga ke  Surga. Dia memasukkan orang-orang yang Ia kehendaki dengan rahmatNya.  Dan Ia memasukkan penduduk Neraka. Kemudian berfirman, ‘Lihatlah, orang  yang engkau dapatkan dalam hatinya iman seberat biji sawi maka  keluarkanlah ia.’ Maka dikeluarkanlah mereka dari Neraka dalam keadaan  hangus terbakar, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau  air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh di  pinggir aliran air. Tidakkah engkau melihat bagaimana ia keluar  berwarna kuning melingkar?” (HR. Muslim, I/172 dan Bukhari, IV/158)</p>
<p>Segi istidlal-nya, adalah tidak kekalnya orang-orang yang berdosa  besar di Neraka, bahkan orang yang dalam hatinya terdapat iman yang  paling rendah pun akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini  tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan kemaksiatan  dengan melakukan berbagai larangan serta meninggalkan  kewajiban-kewajiban.</p>
<p>Sumber: Kitab Tauhid 2, karya DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al           Fauzan</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=251&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/06/01/hukum-pelaku-dosa-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAL-HAL YANG MEMBATALKAN IMAN</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/31/hal-hal-yang-membatalkan-iman/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/31/hal-hal-yang-membatalkan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 22:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kitab]]></category>
		<category><![CDATA[membatalkan]]></category>
		<category><![CDATA[mengkafirkan]]></category>
		<category><![CDATA[mengolok-olok]]></category>
		<category><![CDATA[nawaqidhul]]></category>
		<category><![CDATA[Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Pembatal iman atau “nawaqidhul iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk didalamnya yakni antara lain: 1. Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari kekhususan-kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=248&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Pembatal iman atau “nawaqidhul  iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk  didalamnya yakni antara lain:</p>
<p>1. Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari  kekhususan-kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan  tersebut atau<span id="more-248"></span> membenarkan orang yang mengakuinya.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا  وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ  إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ</p>
<p>“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di  dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan  kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempu-nyai pengetahuan  tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS.  Al-Jatsiyah [45] : 24)</p>
<p>2. Sombong serta menolak beribadah kepada Allah.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا  الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ  وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا (172) فَأَمَّا  الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ  وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا  وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ  مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا  (173)</p>
<p>“Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan  tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah).  Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti  Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang  beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala  mereka dan me-nambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun  orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa  mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi  diri mereka, pelindung dan penolong selain daripadaNya.” (QS. An-Nisa’  [4]: 172-173)</p>
<p>3. Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai  (pertolongan) selain Allah.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا  يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ  أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي  الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p>“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan  kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka  berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah’.  Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak  diketahuiNya baik di langit dan tidak (pula) di bumi? Mahasuci Allah dan  Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (QS. Yunus [10]:  18)</p>
<p>لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا  يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ  لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ  إِلَّا فِي ضَلَالٍ</p>
<p>“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan  berhala-berhala yang meraka sembah selain Allah tidak dapat  memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang  membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke  mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a  (ibadah) orang-orang itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Radu [13]:  14)</p>
<p>4. Menolak sesuatu yang ditetapkan Allah untuk diriNya atau yang  ditetapkan oleh RasulNya.</p>
<p>Begitu pula orang yang menyifati seseorang (makhluk) dengan sesuatu  sifat yang khusus bagi Allah, seperti ilmu Allah. Termasuk juga  menetapkan sesuatu yang dinafikan Allah dari diriNya atau yang telah  dinafikan dariNya oleh RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam.</p>
<p>Allah berfirman kepada Rasulnya:</p>
<p>قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ  يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)</p>
<p>“Katakanlah, Dialah Allah, yang Mahaesa, Allah adalah Tuhan yang  bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula  diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS.  Al-Ikhlas [112]: 1-4)</p>
<p>وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ  يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“Hanya milik Allah asma’ husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan  menyebut asma’ husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat  balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)</p>
<p>رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ  وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا</p>
<p>“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di  antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat  kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia  (yang patut disembah)?” (QS. Maryam [19]: 65)</p>
<p>5. Mendustakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang sesuatu  yang beliau bawa.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ  جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ  الْمُنِيرِ (25) ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ  (26)</p>
<p>“Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang  sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya); kepada mereka telah  datang rasul-rasulNya dengan mambawa mu’jizat yang nyata, zubur, dan  kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab  orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat  kemurkaanKu.” (QS. Fathir [35] : 25-26)</p>
<p>6. Berkeyakinan bahwa petunjuk Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam  tidak sempurna atau menolak suatu hukum syara’ yang telah Allah turunkan  kepadanya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah itu lebih baik, lebih  sempurna dan lebih memenuhi hajat manusia, atau meyakini kesamaan hukum  Allah dan RasulNya dengan hukum yang selainnya, atau meyakini  dibolehkannya berhukum dengan selain hukum Allah.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا  أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ  يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ  وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا</p>
<p>“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya  telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang  diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak ber-hakim kepada thagut itu,  padahal mereka telah diperintah meng-ingkari thagut itu. Dan syetan  bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”  (QS. An-Nisa’ [4]: 60)</p>
<p>فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ  بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ  وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga  mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,  kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap  putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS.  An-Nisa’ [47]: 65)</p>
<p>وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ  الْكَافِرُونَ</p>
<p>“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang  diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS.  Al-Maidah [5]: 44)</p>
<p>7. Tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu tentang  kekafiran mereka, sebab hal itu berarti meragukan apa yang dibawa oleh  baginda Rasul Shalallaahu alaihi wasalam.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي  شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ</p>
<p>“…dan mereka berkata, Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu  disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar  dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak  kami kepadanya.” (QS. Ibrahim [14]: 9)</p>
<p>8. Mengolok-olok atau mengejek-ejek Allah atau Al-Qur’an atau agama  Islam atau pahala dan siksa dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok  Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam atau seorang nabi, baik itu  gurauan maupun sungguhan.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ  قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65)  لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ  طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ  (66)</p>
<p>“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka  lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesung-guhnya kami  hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah  dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak  usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS.  At-Taubah [9]: 65-66)</p>
<p>9. Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang  muslim.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ  وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ  يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي  الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang  Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka  adalah pemimpin bagi pemimpin yang lain. Barangsiapa di antara kamu  mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk  golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada  orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah [5]: 51)</p>
<p>10. Meyakini bahwa orang-orang tertentu boleh keluar dari ajaran  Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan tidak wajib mengikuti ajaran  beliau.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ  نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah  Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama  bagimu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)</p>
<p>11. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya serta tidak  mau mengamalkannya.</p>
<p>Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ  عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ</p>
<p>“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang telah diperingatkan  dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?  Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang  berdosa.” (QS. As-Sajadah [32] : 22)</p>
<p>Inilah sebagian pembatal-pembatal iman yang paling nyata. Masih  banyak pembatal-pembatal iman yang lain seperti sihir, menolak Al-Qur’an  baik sebagian maupun keseluruhannya, atau meragukan ke-mu’jizatannya  atau menghina mushaf atau sebagiannya, atau menghalalkan sesuatu yang  sudah disepakati keharamannya seperti zina atau khamar, atau menghujat  agama serta mencelanya.<br />
Na’udzu billah min dzalik. Wallahu a’lam!</p>
<p>Sumber: Kitab Tauhid 2, karya DR Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al           Fauzan</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=248&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/31/hal-hal-yang-membatalkan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masalah Kata “Allah” di Malaysia dan Indonesia (3)</title>
		<link>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/30/masalah-kata-%e2%80%9callah%e2%80%9d-di-malaysia-dan-indonesia-3/</link>
		<comments>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/30/masalah-kata-%e2%80%9callah%e2%80%9d-di-malaysia-dan-indonesia-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 22:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kang Iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Adian]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirahnabawiyah.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Harus Bertahan Dengan Kata ”Allah”? Oleh: Dr. Adian Husaini Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=244&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2><strong>Mengapa  Harus Bertahan Dengan Kata ”Allah”?</strong></h2>
<p>Oleh: <strong>Dr. Adian  Husaini</strong></p>
<p>Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama  Tuhan  dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus  tahun lalu  menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di  wilayah  Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak  tahun<span id="more-244"></span> 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan  sejumlah  istilah Islam lain. Selama itu sudah ada sejumlah tokoh Kristen  yang  protes tetapi tidak sampai membawa kasusnya ke pengadilan.  Kasus  ini  semakin merebak dan menyedot perhatian masyarakat internasional,   setelah kaum Katolik membawa kasus ini ke Pengadilan.</p>
<p>Ketersinggungan  dalam soal penggunaan istilah dan simbol-simbol  agama bukan hal baru di  kalangan umat beragama. Kaum Muslim di Malaysia  memandang, kata Allah  sudah menjadi bagian yang sah dari istilah dan  simbol agama Islam. Saya  pernah mendengar cerita dari seorang tokoh  Hindu, bahwa kaum Hindu Bali  pernah memprotes kaum Kristen yang  mendirikan lembaga Pendidikan dengan  menggunakan nama Om Swastiastu.  Begitu juga kaum  Hindu berkeberatan  dengan sebutan ”Sang Hyang Widhi  Yesus”.</p>
<p>Bayangkan, bagaimana  perasaan kaum  Muslim, jika kaum Kristen di Indonesia dan Malaysia  membangun gereja  dengan nama ”Gereja At-Taqwa”, ”Gereja Muhammad”,  ”Gereja Imam Syafii”,  ”Gereja Hamba Allah” atau ”Gereja  Nahdhatul-Ummah”?  Atau, bagaimana  jika ada orang Kristen membangun  Gereja dengan simbol ”Allah” dalam  tulisan Arab di atas  atapnya?   Bukankah dalam Bibel berbahasa Arab  saat ini juga digunakan kata Allah,   persis seperti dalam al-Quran?  Meskipun secara juridis formal,  masalah-masalah semacam ini belum  diatur, tetapi ada masalah  sensitivitas yang harus diperhatikan dalam  hubungan antar umat beragama.</p>
<p>Berbeda  dengan kaum Kristen yang sering mengakomodasi unsur-unsur  budaya dan  lokalitas dalam simbol dan ritual keagamaan, umat Islam  memiliki tradisi  penggunaan istilah yang ketat. Sulit dibayangkan, ada  kaum Muslim di  Indonesia atau di Malaysia akan mendirikan Masjid dengan  nama ”Masjid  Haleluya” atau ”Masjid Israel”.  Kita tidak dapat  membayangkan — bahkan  untuk orang Islam yang mengaku liberal atau  Pluralis sekalipun – akan  membangun masjid dengan nama ”Masjid Hamba  Yahweh”.</p>
<p>Lepas dari  persoalan sensitivitas penggunaan istilah-istilah dan  simbol-simbol  keagamaan, soal penggonaan kata ”Allah”, ada perbedaan  menarik antara di  Malaysia dan di Indonesia. Berbeda dengan di  Malaysia, di Indonesia  gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum  Kristen, justru muncul dari  kalangan Kristen sendiri.  Kontroversi soal  penggunaan kata ”Allah”  belakangan semakin merebak ke permukaan  menyusul merebaknya  kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan  nama Allah dan  menggantinya dengan Yahweh.</p>
<p>Tahun 1999, muncul kelompok Kristen  yang menamakan dirinya Iman  Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM)   yang melakukan kampanye agar  kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz  Allah. Kelompok ini kemudian  mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah  (BYH). Kelompok ini  mengatakan: “Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi.  Allah adalah nama Dewa yang disembah  penduduk Mekah.”  Kelompok ini  juga menerbitkan Bibel sendiri dengan  nama Kitab Suci Torat dan Injil  yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab  Suci 2000.  Kitab Bibel versi  BYH ini mengganti kata “Allah” menjadi  “Eloim”, kata “TUHAN” diganti  menjadi “YAHWE”; kata “Yesus” diganti  dengan “Yesua”, dan “Yesus  Kristus” diubah menjadi “Yesua Hamasiah”.  Berikutnya, muncul lagi  kelompok Kristen yang menamakan dirinya  “Jaringan   Gereja-gereja  Pengagung Nama Yahweh” yang menerbitkan Bibel  sendiri dengan nama  “Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini”.  Kelompok  ini menegaskan,  “Akhirnya nama “Allah” tidak dapat dipertahankan lagi.”</p>
<p>Kelompok  BYH mengedarkan brosur berjudul ”Siapakah Yang Bernama  Allah Itu?” yang  isinya mengecam penggunaan kata Allah dalam Kristen.  Mereka menyebut  penggunaan kata ”Allah” dalam Kristen sebagai satu  bentuk penghujatan  kepada Tuhan.  Kaum Kristen mereka seru dengan  sungguh-sungguh untuk  meninggalkan penggunaan kata ”Allah”:</p>
<p>”Stop! Stop! Stu-u-op!  Jangan diteruskan hujatan Anda. Kalau Anda  semula tidak tahu, pasti akan  diampuni, tetapi sekarang melalui  pembacaan traktat pelayanan ini, Anda  menjadi tahu. Maka jangan  diterus-teruskan! … Maka, janganlah  terlibat di dalam penghujatan Dia.  (Hentikan hujatan Anda sekarang  juga).” (dikutip dari buku Herlianto,  Siapakah yang  Bernama Allah  Itu?), hal. 4).</p>
<p>Gara-gara mencuatnya gugatan penggunaan kata  ”Allah” oleh kaum  Kristen, di Indonesia, banyak diterbitkan buku yang  membahas tentang  kontroversi penggunaan ”nama Allah” dalam Kristen,  seperti buku: I.J.  Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana  Press, 2004);  Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi,  2005);  Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005,   cetakan ke-3), dan Pdt. A.H. Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru,   Sekte Pengagung Yahweh, (2003); juga Herlianto, Gerakan Nama Suci, Nama   Allah yang Dipermasalahkan, (Jakarta: BPK, 2009); Samin Sitohang,   Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama   Allah dalam Alkitab, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).</p>
<p>Karena  merebaknya kontroversi tentang nama Tuhan tersebut, dan juga  tentang  boleh tidaknya penggunaan kata ”Allah” dalam Bibel edisi bahasa   Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) — sebagai lembaga resmi   penerjemah Bibel edisi bahasa Indonesia – membuat penjelasan:</p>
<p>”el,  elohim, aloah adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa  Ibrani,  bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah  (bentuk  ringkas dari al ilah) merupakan istilah yang seasal (cognate)  dengan  kata Ibrani el, elohim, aloah. Jauh sebelum kehadiran agama  Islam, orang  Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca:  menyebut) allah  ketika mereka berdoa kepada el, elohim, aloah. Bahkan  tulisan-tulisan  kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah  menggunakan allah  sebagai padan kata untuk el, elohim, aloah…. Dari  dahulu sampai  sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq,  Indonesia, Malaysia,  Brunei, Singapura dan berbagai negara di Afrika  yang dipengaruhi oleh  bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut)  kata allah – jika  ditulis biasanya menggunakan huruf kapital ”Allah”  untuk menyebut  Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus,  baik dalam  ibadah maupun dalam tulisan-tulisan. Dalam  terjemahan-terjemahan bahasa  Melayu dan bahasa Indonesia, kata ”Allah”  sudah digunakan terus menerus  sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa  Melayu yang pertama (terjemahan  Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu  juga dalam Alkitab Melayu yang  kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius  Klinkert, 1879 sampai saat  ini.”</p>
<p>Penjelasan LAI, tertanggal 21 Januari 1999,  ditandantangani oleh  Sekretaris Umumnya, Supardan. Surat LAI ini dikutip  dari buku  Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh,   karya Pdt.  A.H. Parhusip.  Sekte Pengagung Yahweh yang disebut di sini   memang  membuat geram berbagai kalangan dalam Kristen, sampai-sampai Pdt.   Parhusip menulis ungkapan yang sangat keras: ”Saya tahu kebusukan dan   kejahatan Pengagung YAHWEH, yakni: Hanya untuk menghilangkan sebutan   ”Allah” dari Alkitab, maka dibuatlah ’Kitab Suci’ yaitu Alkitab palsu   yang di dalamnya sebutan ”Tuhan YAHWEH” (=Tuhan TUHAN) begitu mubazir.   Bodoh! Untuk itulah saya serukan: Kalau mau bodoh, bodohlah; tetapi   jangan terlalu bodohlah kawan!”</p>
<p>Meskipun LAI sudah mengeluarkan  edaran resmi, para penggugat nama  Allah dalam Kristen terus bermunculan.  Mereka juga terus menerbitkan  buku-buku, panflet, bahkan Bibel sendiri  yang menggugat penggunaan  kata  Allah untuk nama Tuhan mereka. Sebuah  buku yang berjudul “Allah”  dalam Kekristenan, Apakah Salah, karya Rev.  Yakub Sulistyo, S.Th.,  M.A., (2009), menguraikan kekeliruan kaum Kristen  di Indonesia yang  menggunakan nama Allah untuk memanggil Tuhan mereka.  Buku ini menulis  imbauan kaum Kristen Indonesia untuk tidak lagi  menggunakan kata Allah:</p>
<p>“Kamus Theologia Kristen sendiri sudah  sangat jelas menulis bahwa:  Allah itu berasal dari Arab yang artinya  Keberadaan Tertinggi dalam  agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang  Kristen atau Katolik  (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati  iman orang lain (umat  Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman  Nasrani, sehingga  menjadi Sinkretisme… Sebagai umat Nashrani, carilah  KESELAMATAN sesuai  kitab sucinya sendiri dengan tidak takut menghadapi  institusi duniawi  seperti Sinode, Pimpinan gereja yang tidak memahami  Firman Tuhan, merk  Gereja dan lain-lain. Jangan takut dipecat demi  kebenaran hakiki. Tuhan  Yahweh di dalam Nama Yeshua HaMashiakh  memberkati Anda.”  (Yakub  Sulistyo, “Allah” dalam Kekristenan, Apakah  Salah, (2009), hal. 43.  Buku ini tidak mencantumkan nama penerbit).</p>
<p>Bahkan,  kaum Kristen penolak nama ”Allah” ini juga kemudian  lagi-lagi  menerbitkan Bibel versi mereka sendiri, yang membuang semua  kata Allah  di dalamnya. (Lihat: Kitab Suci Perjanjian Lama dan  Perjanjian Baru –  Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan  Yayasan Lentera Bangsa,  Jakarta, 2008).  Sebagai contoh, pada Matius 4:  10, versi Kitab Suci  ILT, tertulis: “Kemudian YESUS berkata kepadanya,  “Enyahlah hai Satan!  Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah  YAHWEH, Elohimmu, dan  kepada-Nya sajalah engkau harus beribadah.”   Sedangkan dalam Alkitab  versi LAI (2007) tertulis: “Maka berkatalah  Yesus kepadanya: “Enyahlah,  Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus  menyembah Tuhan, Allahmu, dan  hanya kepada Dia sajalah engkau  berbakti.”   Contoh lain, dalam Alkitab  ILT Kitab Ulangan 10:17,  tertulis: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah  Elohim atas segala ilah dan  Tuhan atas segala tuan, Elohim yang besar  yang perkasa dan yang  ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak  menerima suap.”    Sedangkan dalam versi LAI (2007), ayat itu ditulis:  “Sebab TUHAN,  Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan,  Allah yang besar,  kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun  menerima suap.”</p>
<p>Jika kaum Kristen di Indonesia merujuk kepada  Bibel versi Arab, maka  persoalan nama dan penyebutan Tuhan juga menjadi  rumit sebab huruf  Arab – sebagaimana huruf Ibrani tidak mengenal huruf  kapital atau huruf  kecil.   Sebagai contoh, sebuah Bibel versi  Arab-Inggris terbitan  International Bible Society (1999), menulis Kitab  Ulangan 10:17 sebagai  berikut: “Li-anna al-rabba ilahukum huwa ilahu  al-Aalihati wa rabbu  al-arbaabi, al-ilahu al-‘adhiimu, al-jabbaaru  al-mahiibu, al-ladziy laa  yuhaabiy wajha ahadin, wa laa yastarsyiy.   (Dalam sebuah Bibel bahasa  Arab terbitan London tahun 1866, ayat itu  ditulis sebagai berikut: Min  ajli anna al-rabba ilaahukum huwa ilaahu  al-Aalihati wa rabbu  al-arbaabi ilaahun ‘adhiimun… ). Dalam teks bahasa  Inggris (versi New  International Version) ayat itu ditulis sebagai  berikut: “For the LORD  your God is God of gods and Lords of  lords, the  great God, mighty and  awesome, who shows no partiality.”</p>
<p>Menyimak  perdebatan seputar penggunaan nama Allah dalam Kristen,  tampaknya, nama  ”Allah” memang merupakan nama Tuhan yang sudah  digunakan oleh kaum-kaum  sebelum Islam, di kawasan Arab. Karena misteri  penyebutan nama Tuhan  dalam Perjanjian Lama (YHWH) tidak terpecahkan,  maka kaum Kristen di  Arab – tampaknya — juga menyesuaikan diri dengan  tradisi di situ dalam  menyebut Tuhan, yaitu dengan menggunakan kata  Allah. Tetapi, kaum  Kristen tetap memberikan catatan, bahwa kata  “Allah”  bukanlah sebuah  nama diri, melainkan hanya sebutan untuk Tuhan  di daerah Arab. Begitu  juga dengan konsepnya, Allah adalah Tuhan  Tritunggal.</p>
<p>Pandangan  Kristen terhadap “Allah” semacam itu jelas berbeda dengan  pandangan  Islam terhadap Allah.  Sebab, dalam Islam, Allah adalah nama  Tuhan, dan  konsepnya pun bukan Tritunggal, tetapi  Allah yang SATU,  tidak beranak  dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang  setara dengan  Dia. Dalam pandangan Islam, sesuai wahyu yang diturunkan  Allah kepada  Nabi Muhammad saw, nama “Allah” inilah yang dipilih oleh  Allah untuk  memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, melalui utusan-Nya  yang  terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Melalui Nabi Muhammad saw juga,   dikabarkan bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, dan bukan Tuhan atau  anak  Tuhan. Nabi Isa a.s. juga ditegaskan tidak mati di tiang salib  untuk  menebus dosa manusia.</p>
<p>Jadi, meskipun nama ”Allah” sudah digunakan  oleh kaum musyrik Arab  sebelum kedatangan Islam, tetapi al-Quran tetap  menggunakan nama ini.  Hanya saja, nama Allah yang digunakan oleh  al-Quran sudah dibersihkan  konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti  dipahami oleh kaum Kristen  dan kaum musyrik Arab. Dengan kata lain, nama  Allah itu sudah  di-Islam-kan konsepnya. Nama bisa saja sama, tetapi  konsepnya berbeda.  Dan satu-satunya jalan untuk memahami kemurnian lafaz  dan makna Allah  tersebut, haruslah dilakukan melalui pemahaman terhadap  wahyu Allah  yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Muhammad saw.  Karena itu,  menurut pandangan Islam, bisa dipahami, untuk mengenal Allah  secara  murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian  Muhammad  saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir,  yang  bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, dan  cara  untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<p>Itu konsepsi Islam tentang nama  Tuhan, yang memang berbeda dengan  konsepsi Kristen tentang nama Tuhan.   Dalam pandangan Islam, setelah  diutusnya Nabi Muhammad saw kepada  seluruh manusia, maka sebenarnya  kaum Kristen mengakui dan mengimani  kenabian Muhammad saw, sebagaimana  dipesankan Nabi Isa a.s. (yang  artinya):  ”Dan ingatlah ketika Isa ibn  Maryam berkata, wahai anak  keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah  utusan Allah kepada kalian  semua, membenarkan apa yang telah ada pada  kita, yaitu Taurat dan  memberikan kabar gembira (akan datangnya)  seorang Rasul yang bernama  Ahmad.” (QS 61:6).</p>
<p>Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah  Nabi, utusan Allah,  sebagaimana para nabi sebelumnya. Karena itulah,  ketika kaum Kristen  mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan, maka Allah murka  (QS 19:88-91).  Sebaliknya, bagi kaum Kristen,  Yesus dipandang sebagai  juru selamat,  dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan. Karena  itu, semua  manusia harus diusahakan untuk mengenal Yesus dan dibaptis.</p>
<p>Kaum  Kristen juga memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam  tentang nama  Tuhan. Sebagian mereka memandang, bahwa nama Tuhan  diserahkan kepada  budaya setempat. Maka, di Barat,  kaum Kristen  memanggil God atau Lord,  di Arab lain lagi, dan di Indonesia juga  berbeda. Konsepsi ini yang  digugat sejumlah kelompok Kristen lain,  seperti ”Jaringan Gereja  Pengagung Nama Yahweh”, yang menyatakan, bahwa  nama Tuhan sudah  disebutkan dalam Bibel, yaitu Yahweh.<br />
<strong><br />
Demi Misi Kristen</strong></p>
<p>Memang,  pertanyaanya, mengapa kaum Kristen di wilayah  Melayu-Indonesia  menggunakan kata ”Allah”  untuk menyebut nama Tuhan  mereka?  Padahal,  Kristen yang datang ke Indonesia sesungguhnya berasal  dari Barat, yang  tidak mengenal kata Allah. Salah satu alasannya,  seperti disebutkan oleh  Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama  Sang Pencipta? Menjawab  Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam  Alkitab, adalah  “pertimbangan misiologis”. Jadi, karena penduduk di  wilayah  Melayu-Nusantara ini sudah terbiasa menyebut nama Tuhan dengan  Allah,  karena mayoritasnya Muslim, maka dipakailah kata Allah untuk  menyebut  Tuhan Kristen tersebut. Samin Sitohang menulis tentang hal  ini:</p>
<p>“Jadi,  jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama  Sang  Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang  berasal  dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak  perlu harus  membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang  baru.  Sebaliknya, jika Alkitab Indonesia memakai Elohim, nama ini akan  sukar  diterima. Memang secara teologis dan moral, nama itu tidak  keberatan  untuk dipakai. Tetapi dari sudut pandang misiologis,  penggunaan nama itu  akan menjadi sia-sia. Lebih jauh, jika Alkitab  Indonesia menggunakan  Elohim, maka dari sudut kesaksian Kristiani, nama  itu akan merusak citra  Injil. Sebab, semua orang sudah tahu bahwa nama  Sang Pencipta bagi umat  Kristen Indonesia adalah Allah, bahkan nama  ini sudah dipakai umat  Kristen di Arab zaman pra-Islam. Lalu jika  berganti menjadi Elohim,  orang luar akan berkata bahwa nama Allah umat  Kristen tidak konsisten.  Jika demikian halnya, bagaimana jadinya nilai  Injil di mata orang asing,  khususnya umat Islam? Mereka akan berkata,  “Dahulu nama Allah kalian  Allah, sekarang Elohim, dan besok siapa lagi?  Bukankah hal ini akan  menyesatkan pemikiran mereka dengan keyakinan  bahwa ternyata tidak ada  kepastian di dalam “agama” Kristen? Disamping  itu, umat Kristen sendiri  pun akan dan memang sudah banyak kebingungan  atas sikap Kelompok  Penggagas yang memaksakan penggunaan Elohim  menggantikan Allah.” (Samin  Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta?  Menjawab Kontroversi Sekutar  Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, hal.  100-101).</p>
<p>Menurut  Samin Sitohang, meskipun nama Allah digunakan oleh penganut  agama yang  berbeda, maka akan memiliki akibat yang berbeda. Jika kaum  Kristen yang  menggunakan nama Allah, maka roh Kristus sendiri yang  datang, sesuai  dengan 1 Korintus 8:5,6, tidak ada lagi allah selain  Allah yang dikenal  dalam Yesus Kristus. “Tetapi, jika orang bukan  Kristen memanggil nama  itu, tentu Ia tidak ada di situ, alias kosong.  Jika demikian halnya,  ketika orang bukan Kristen memanggil Allah, bukan  mustahil justru roh  antikristus akan datang menyusup, seolah-olah doa  mereka dijawab oleh  Sang Pencipta, padahal Ia tidak mendengar doa-doa  mereka. Lalu bukan  mustahil kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iblis,  karena Iblis pun  bisa  berpura-pura baik untuk menyamar sebagai  malaikat terang (2 Kor.  11:13-15),” demikian tulis Samin Sitohang,  seorang pendeta Gereja  Metodis Injili dan dosen Institut Alkitab  Tiranus.</p>
<p>Samin Sitohang  juga berpendapat, bahwa “siapa pun nama yang  diberikan oleh masyarakat  budaya tertentu kepada Sang Pencipta, asalkan  nama itu mencerminkan  karakter-Nya sebagai Sang Pencipta, Yang Maha  Kuasa, Yang Maha Suci, dan  Yang Mahabaik, dapat dipahami sebagai bagian  dari rencana Sang Pencipta  untuk meraih segala suku bangsa agar  percaya kepada-Nya.”</p>
<p>Konsep  Kristen tentang nama Tuhan ini sangat berbeda dengan Islam,  yang  mensyaratkan, nama Tuhan haruslah berdasarkan wahyu, bukan  berdasarkan  tradisi atau kesepakatan suatu masyarakat. Nama Tuhan dalam  Islam adalah  masalah penting dan mendasar. Dalam ajaran Islam, dikenal  nama-nama  Tuhan yang semuanya berasal dari wahyu, sehingga umat Islam  seluruh  dunia dan sepanjang zaman, memanggil nama Tuhan dengan ungkapan  yang  sama, sebagaimana diajarkan dalam al-Quran, seperti “Ya Allah”,   “Ya-Rahman”, “Ya-Rahim”, “Ya Ghafur”, dan dengan nama-nama lain yang   dikenal sebagai Asmaul Husna. Karena itu, nama Tuhan dalam Islam   bukanlah hal yang spekulatif, tetapi merupakan satu kepastian   berdasarkan wahyu.</p>
<p>Sebaliknya, nama YAHWEH yang diajukan oleh  kelompok-kelompok Kristen  penolak kata ”Allah”, juga tak kurang  kontroversialnya. I.J.  Satyabudi, seorang penulis Kristen,  mengritik  keras sejumlah kelompok  Kristen yang mengklaim bahwa nama Tuhan orang  Kristen adalah Yahweh. Ia  menulis: ”Orang-orang Yahudi di seluruh dunia  tertawa terbahak-bahak  ketika menyaksikan orang-orang Kristen mengklaim  dirinya lebih  mengetahui cara pengucapan nama YHWH dibandingkan umat  Yahudi.” (hal.  92).</p>
<p>Jadi, bagaimana seharusnya kaum Kristen  memanggil Tuhan mereka.  Jawabnya, seperti dikatakan Pendeta Parhusip:</p>
<p>”Lalu  mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan  bagaimanakah  kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah  pada Anda! Mau  panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa!  Silahkan! Mau panggil:  Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau  panggil: Elohim atau Theos  atau God atau Lowalangi atau Tetemanis…!  Silakan! Mau memanggil  bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya  memanggil Sang Pencipta, yang  menciptakan langit dan bumi… Ya, silakan  menyebut dan memanggil Sang  Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh  Pencipta itu di dalam hati  Anda, di dalam hati kita masing-masing.  Lihat Roma 2:14-15.”</p>
<p>Untuk  kasus Malaysia, demi terciptanya kerukunan umat beragama,  sebagai  Muslim kita juga tentu boleh mengusulkan, agar kaum Kristen  tidak lagi  menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut Tuhan mereka. Toh,  memang tidak  ada masalah bagi kaum Kristen untuk memanggil Tuhan dengan  berbagai  sebutan selain Allah. Jadi, mengapa harus bertahan dengan  sebutan  ”Allah”?  [<em>Depok, 23 Januari 2010/<a href="http://www.hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a></em>]</p>
<p><em>Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat   Beragama—Majelis Ulama Indonesia. <strong>Catatan Akhir Pekan [CAP] </strong>Adian   Husaini adalah hasil kerjasama <strong>Radio Dakta</strong> dan <strong>www.hidayatullah.com</strong></em></p>
<p>http://hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/10497-masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia-3.html</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sirahnabawiyah.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sirahnabawiyah.wordpress.com&amp;blog=11352382&amp;post=244&amp;subd=sirahnabawiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/05/30/masalah-kata-%e2%80%9callah%e2%80%9d-di-malaysia-dan-indonesia-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9d4cd6c207337a0ec3c34f51af87f26?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusuf03</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
